Sabtu, 26 April 2014

Sesuatu di Kepalaku

tak ada apa-apa di kepalaku. tak juga ada siapa-siapa
yang menunggu kupeluk. kepalaku jadi seperti ruang kelas
yang kosong. aku mengantuk, lalu memilih tidur untuk berlibur
dari kesepian.

saat terjaga, kepalaku telah penuh segala
rasa hot dog, bau bunga bangkai, dan suara siapa di kamar mandi
segera berbaur dengan nama-nama yang selalu kupanggil saat absen
sebelum pelajaran ilmu alam dimulai

hingga berhari-hari telah kubunuh banyak hal di kepalaku
hal-hal kecil, hal-hal usil, hal-hal yang saling berkejaran,
yang saling sembunyi, dan tak jarang yang saling mencintai.

Menunggu Seseorang Bicara

percakapan seperti buku yang kita buka
ada kepungan tanda meronce mata
ada jeda yang mengunci mulut kita   

bicaralah
tak ada yang terlambat dalam sebuah tatap muka
terlebih kau adalah pengembara yang tak pernah betah
memandangi langit-langit rumah
maka akan kusimpan kata-katamu dalam sebuah tas tangan
membawanya nanti ke pesta-pesta besar kehidupan
bersama handphone dan selembar amplop yang bertuliskan nama kita

Kapankah Pulang?

kapan kau pulang?
pekan-pekan jadi seperti serdadu
menekanku dengan senjata di mulutnya
suara-suara aneh memecah lampu rumah kita
gelap
kata-kata tak terbaca lagi di malam hari

maka hanya setiap pagi aku menulis pertanyaan untukmu
kapan kau pulang?
telah kutanam mei hwa di taman belakang
wanginya lembut
memagutku semalam suntuk

Rabu, 16 April 2014

[Cerpen] ORANG-ORANG YANG (TIDAK) BAHAGIA


Orang Pertama

Berada sangat dekat dengan orang yang paling kaubenci, apa yang akan kaulakukan?
Menjambak rambutnya? Tidak, jangan lakukan itu!
Pergilah, pergilah yang jauh!

        Saat kembali melihat perempuan itu, aku langsung teringat gadis kecil yang menunggu ibunya berhenti bersedih.
        Gadis kecil itu telah berusaha mengusir kesedihan di jiwa ibunya, tetapi kesedihan itu tak pernah pergi. Ia memperlihatkan kertas-kertas ulangannya yang selalu mendapat nilai tinggi, ibunya tersenyum bangga. Ia membacakan karangannya yang mendapat pujian dari gurunya, ibunya tersenyum sambil berkata, “Suatu saat kamu akan jadi penulis hebat, Nak.”
        Ibunya memang selalu tersenyum pada gadis sembilan tahun itu, tetapi ia tahu jiwa ibunya diliputi kesedihan. Kesedihan itu datang tiba-tiba saat ia dan ibunya melihat seorang lelaki sedang bermesraan dengan wanita lain di sebuah mal.
        “Itu Ayah kan, Bu?”
        “Itu bukan Ayah, Nak. Ayahmu sedang kerja di luar kota.”
        “Oh, iya, Ola lupa. Kan Ola yang antar Ayah ke bandara.”
        “Iya. Sekarang kita ke pantai saja, ya?”
        “Hah, kok ke pantai, Bu. Kita kan belum belanja.”
        “Di pantai lebih seru. Belanjanya nanti saja.”
        Setelah hari itu, ayahnya pulang dari luar kota membawa oleh-oleh yang banyak. Gadis kecil itu sangat bahagia, tetapi tidak dengan ibunya. Diam-diam, dari balik selimutnya, gadis kecil itu menyimak pertengkaran kedua orang tuanya. Perempuan lain, selingkuh, bohong, dan entah berapa kata lagi yang ditangkap gadis kecil itu sebelum kantuk menidurkannya.
        Keesokan harinya ibunya masih tersenyum, tetapi gadis kecil itu tahu jika ibunya hanya pura-pura tersenyum, agar ia berangkat ke sekolah dengan gembira. Saat pulang sekolah, gadis kecil itu mendapati kesedihan di mata ibunya.
        “Mata Ibu kenapa bengkak?”
        “Oh, ini ... tidak apa-apa, Sayang. Ibu habis kupas bawang.”
        Gadis kecil itu langsung memeluk ibunya. Jangan sedih ya, Bu. Ola akan selalu bersama Ibu.
        Hari berikutnya, saat pulang dari sekolah, gadis kecil itu melihat lebam di wajah dan tangan ibunya. Ia sangat marah dan tahu harus marah kepada siapa.

Kamis, 09 Januari 2014

Memecah Kata

nasib yang renta tiba begitu saja di tanganku
aku bertepuk tangan menyembunyikan prasangka
lemah dalam sandera kata-kata
kupecah a, d, u, dan h
entah dari mana
napas yang meruah wangi darah
melumur lantai, melumat hati
bagaimana jika aku lupa menyimpan nasib dalam kepala?

SENYAP

tiba-tiba aku memikirkan ruang tamu, tempat dudukmu
adakah waktu untuk merapati kembali pintu yang tertutup itu?
menerimamu dengan rikuh hingga akhirnya melambai penuh rindu
pertemuan kita selalu berjalan sama, selalu saja senyap nasibnya
mengutangkan sakit kepala pada perpisahan selamanya

kini melalui detak jam yang fasih memulangkan ingatan
kutahu bahwa setengah dari tehku adalah air matamu
setelah kau jauh, aku mesti meneguknya habis-habisan
oh, tak ada ampas dalam ketabahan
tiada.

Jumat, 29 November 2013

[RESENSI NOVEL 12 MENIT]

MIMPI-MIMPI YANG DIPERJUANGKAN SEPENUH HATI
Resensator: Susi S. Idris

Judul Buku        : 12 Menit
Pengarang         : Oka Aurora
Penerbit            : Noura Books
Cetakan            : Pertama, Mei 2013
Tebal                 : xiv + 348 halaman
ISBN                 : 978-602-7816-33-6

        Mewujudkan impian di tengah banyaknya rintangan bukanlah hal yang mustahil jika dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Orang-orang yang berani bermimpi adalah orang-orang yang juga berani bekerja keras, berani menanggung risiko, dan berani membuat keputusan. Hal tersebutlah yang ingin disampaikan Oka Aurora dalam novelnya yang berjudul 12 Menit. Melalui tokoh Rene, Elaine, Lahang, dan Tara, Oka menghadirkan sebuah kisah inspiratif tentang perjuangan anak-anak Marching Band Bontang Pupuk Kaltim dalam meraih impian mereka menjadi juara umum di ajang GPMB (Grand Prix Marching Band), sebuah perhelatan akbar tahunan tempat marching band ternama dari seluruh Indonesia berlaga memperebutkan gelar juara.
        Novel 12 Menit menghadirkan cerita yang tidak hanya fokus pada perkembangan satu orang tokoh, melainkan empat tokoh sekaligus, yaitu Rene, Elaine, Lahang, dan Tara. Keempat tokoh tersebut memiliki permasalahan masing-masing dalam masa-masa persiapan hingga latihan untuk mengikuti ajang GPMB yang digelar di Jakarta. Permasalahan-permasalahan yang dihadirkan Oka mampu membuat pembaca berkaca-kaca, sekaligus termotivasi untuk tidak menjadi orang-orang yang mudah putus asa.
        Awalnya Rene menolak tawaran untuk menjadi pelatih Marching Band Bontang Pupuk Kaltim, karena saat itu ayahnya baru saja meninggal akibat kanker hati, dan Rene khawatir meninggalkan ibunya sendirian di Jakarta. Namun setelah dibujuk oleh pihak PKT, akhirnya Rene menerima tawaran tersebut (hlm. 11-12).
        Rintangan Rene sebagai pelatih Marching Band Bontang sudah dimulai sejak awal kedatangannya. Saat itu, empat orang anggota keluar dari tim inti yang mengharuskan Rene segera mencari anggota baru. Rene pun mengaudisi anak-anak cadet band dan cukup kesulitan menemukan anak-anak berbakat di tim yang memang khusus berisi anggota-anggota baru tersebut. Namun akhirnya terpilihlah anggota-anggota yang akan mengisi posisi yang kosong. Dua di antaranya adalah Tara dan Elaine.
        Oka Aurora menggambarkan Rene sebagai sosok pelatih yang tegas, disiplin, dan cenderung keras saat melatih. Sikap Rene tersebut membuat Tara memutuskan keluar dari marching band, karena sakit hati dengan teguran dan bentakan-bentakan Rene kepadanya saat latihan. Rene pun mengakui kesalahannya pada Tara dan meminta maaf pada remaja berkerudung tersebut. Tetapi perlu waktu untuk membuat Tara kembali mengikuti latihan.
        Selain dihadapkan pada permasalahan Tara, Rene pun dipusingkan dengan posisi field commander yang harus segera menemukan penggantinya, karena Ronny yang memegang posisi tersebut mengalami kecelakaan. Elaine yang kemudian terpilih, ternyata mendapat larangan keras dari ayahnya. Ayah Elaine lebih menginginkan putrinya mengikuti Olimpiade Fisika mewakili sekolahnya daripada mengikuti GPMB.
        Permasalahan yang dihadapi Rene tidak sampai di situ. Saat semua tim Marching Band Bontang Pupuk Kaltim telah bersiap untuk tampil berlomba di Istora Senayan, masalah kembali muncul. Kabar kematian bapak Lahang diterima Rene melalui manajer Marching Band Bontang. Sang manajer yang bernama Bimo bersikeras untuk memberitahu berita duka tersebut kepada Lahang, namun Rene menolaknya dengan alasan akan mengganggu konsentrasi bermain Lahang. Namun Akhirnya, berita tersebut sampai juga ke telinga Lahang yang membuat Rene takut jika Lahang mengambil keputusan untuk pulang sebelum bertanding.
        12 Menit adalah novel karya Oka Aurora yang diadaptasi dari skenario filmnya yang berjudul sama. Novel ini terasa unik karena menghadirkan cerita tentang permainan marching band, lengkap dengan kisah perjuangan anak-anak pelosok negeri dalam mewujudkan impian mereka menjadi juara umum di ajang GPMB.