Rabu, 22 April 2015

[RESENSI NOVEL KEI]

Tragedi Cinta Berlatar Sejarah


Judul Buku     : Kei: Kutemukan Cinta di Tengah Perang
Pengarang      : Erni Aladjai
Penerbit          : GagasMedia
Tahun Terbit    : Cetakan pertama, 2013
Tebal              : x + 254 halaman
ISBN             : 978-979-780-649-1

Sejarah Indonesia telah mencatat bahwa sejak 1999-2001, terjadi perang saudara di Maluku. Dalam kurun waktu tiga tahun tersebut, ribuan orang tewas, ribuan pula yang cacat fisik, belasan ribu perempuan menjadi janda, belasan ribu orang menjadi pengangguran, ratusan ribu penduduk terpaksa mengungsi, dan adapula yang dinyatakan hilang (hlm. 1). Adakah yang telah melupakan sejarah kelam tersebut? Atau adakah yang tidak tahu bahwa peristiwa menyedihkan tersebut pernah terjadi di Maluku, salah satu provinsi di Indonesia?
Kei mengisahkan tentang perang saudara yang terjadi di Ambon, ibu kota provinsi Maluku, yang kemudian menyebar ke pulau-pulau lain di Maluku. Salah satunya ke Pulau Kei, pulau yang selama ini dikenal damai, pulau yang masyarakatnya hidup penuh toleransi di tengah keragaman agama dan suku, pulau yang masyarakatnya menjunjung tinggi adat dan ajaran leluhur. Namun, kuatnya sentimen agama sanggup membuat Pulau Kei bergolak. Desa-desa di Kei pun saling serang. 
Maret 1999, saat Namira Evav, gadis asal Elaar, beserta sahabatnya, Mery, yang berasal dari Evu, baru saja selesai menarikan Tarian Sosoi Swar Man-Vuun dalam Pesta Adat Tutup Sasi, tiba-tiba seorang pemuda datang mengabarkan bahwa Elaar akan diserang. Semua orang yang menghadiri pesta adat tersebut merasa ketakutan. Tak terkecuali Namira dan Mery, dua sahabat berbeda agama yang saling menyayangi.
Meskipun hari itu serangan tidak terjadi, namun masih di bulan Maret 1999, Namira melihat orang-orang tak dikenal membawa parang-parang panjang, menggenggam batu, dan memanggul senapan. Penyerangan terhadap Elaar oleh dua desa tetangga terjadi di depan mata Namira. Saat itulah Namira ditarik seseorang masuk ke hutan, dan dimulailah kehidupan Namira sebagai seorang pengungsi yang terus berpindah-pindah.
Di tempat lain, Sala, pemuda Desa Watran yang baru pulang mengantar pisau pesanan ibu-ibu di Mun Kahar, sebuah pulau kecil di Kei Besar, begitu terpukul dengan kenyataan yang dilihatnya. Ibunya, orang tua yang seorang diri membesarkannya, tertelungkup bersimbah darah di pekarangan rumahnya. Perempuan itu telah meninggal, membuat Sala benar-benar putus asa.
Namun, Sala yang besar dengan petuah-petuah ibunya tentang hukum adat Kei, tidak setuju ketika orang-orang di desanya merundingkan rencana serangan balasan ke desa-desa yang telah menyerang mereka. Namun, niat orang-orang yang hatinya telah diliputi sakit hati dan dendam, tak bisa lagi ditentang. Akhirnya, Sala pergi dari Watran. Perjalanannya pun sampai di Langgur.
Di Langgur, Namira dan Sala bertemu di tempat pengungsian. Bermula ketika Sala mencabut pecahan botol di telapak kaki Namira, dilanjutkan dengan perhatian-perhatian Sala kepada gadis itu, hingga percakapan-percakapan keduanya di bawah pohon ketapang; Namira senang mendengarkan Sala bercerita.
Hubungan keduanya pun terus terjalin di tengah perang yang tak kunjung usai. Keduanya saling mencintai. Sala bahkan ingin segera menikahi Namira. Namun, Langgur yang kemudian ikut rusuh, memaksa Namira mengungsi ke Evu, sementara Sala tetap di Langgur. Saat Evu nyaris kacau, Namira ditarik seorang ibu masuk ke kapal barang KM Cinta Semusim yang membawa Namira ke Makassar, ke kehidupannya yang baru.
Sala yang gagal menemukan Namira di Evu, akhirnya memilih ikut temannya, Edo, ke Jakarta. Kehidupan yang diimpikan Sala tidak terjadi di kota tersebut. Sala malah menjadi anak buah Bos Yo, seorang pemilik usaha debt collector dan penyewaan jasa pembunuh bayaran, yang memaksa Sala melakukan tindak kejahatan yang paling dijauhinya selama ini.
Novel unggulan “Sayembara Menulis Novel DKJ 2012” ini sangat menarik dibaca, karena adanya kompleksitas alur yang dihadirkan pengarang. Kisah cinta Namira dan Sala yang berlatar sejarah (perang di Pulau Kei), membuat dramatisasi novel ini begitu terasa, terutama tentang perubahan hidup Sala yang kontras setelah berpisah dengan Namira. Banyak tragedi (peristiwa menyedihkan) yang dihadirkan pengarang dalam novel ini. Sayangnya, dengan gaya penulisan Erni yang cepat, penggambaran perasaan tokoh-tokohnya dalam beberapa peristiwa menjadi kurang tergali. Saat Sala atau Namira sedih, penggambaran itu hanya ditulis satu paragraf atau beberapa kalimat, setelah itu beralih ke peristiwa lain. Misalnya saat Erni menggambarkan kesedihan Sala yang tidak menemukan Namira di Evu dengan kalimat “Sala lemas” dan “Dadanya perih” (hlm. 155). Penggambaran tersebut kurang mampu memancing emosi pembaca.
Kekurangan lain dalam novel ini, yaitu adanya inkonsistensi mengenai lama Namira berada di Makassar. Jika merunut tanggal Namira berangkat ke Makassar, yaitu Mei 1999 (hlm. 148), lalu Namira berada di pelabuhan Kota Makassar untuk kembali ke Kei pada November 2001 (hlm. 2), berarti Namira berada di Makassar selama tiga puluh satu bulan atau dua setengah tahun. Hal ini diperkuat dengan usia Namira yang saat perang berusia 18 tahun (hlm. 138) dan saat pulang kembali ke Kei berusia 20 tahun (hlm. 3). Namun, di halaman 230 ditulis bahwa Namira tinggal selama setahun di Makassar, dan pada halaman 234 ditulis bahwa Namira meninggalkan rumahnya di Elaar selama setahun lebih.
Selain kekurangan tersebut, novel ini juga tidak luput dari kesalahan penulisan (masalah tipografi) dan kesalahan penggunaan EYD, misalnya: menengaknya (hlm. 16), menjengguk (hlm. 19), waswas (hlm. 18), mengali (hlm. 31), Kei besar (hlm. 28), tersium (114), pelanggara (hlm. 233), merekaya (hlm. 233), dan beberapa lainnya.
Suasana perang dalam novel ini begitu terasa penggambarannya. Hiruk-pikuk di pengungsian, para korban yang perlu pertolongan, dan sebab akibat terjadinya pertikaian, semua dihadirkan pengarang dengan porsi yang pas. Kei adalah novel dengan alur yang tidak mudah ditebak. Nasib tokoh-tokohnya begitu cepat berubah, membangkitkan rasa penasaran tentang akhir dari kisah Namira dan Sala.  
Di beberapa halaman terakhir dalam novel ini, pengarang sukses memainkan emosi pembaca melalui keadaan Sala yang kritis. Lalu, di antara keadaan kritis itu, momen manis yang menggetarkan pun terjadi, yaitu saat Sala (dengan sisa tenaganya) menulis surat untuk Namira. Akankah surat yang ditulis di pembungkus rokok itu sampai ke tujuan?
Novel ini sangat menarik untuk dituntaskan. Kei memperlihatkan bahwa perang saudara hanyalah ulah “Tuan Iblis” yang membuat perkara-perkara sepele bergeser menjadi isu-isu keagamaan. Kei juga memperlihatkan bahwa orang-orang Katolik, Protestan, dan Muslim, sesungguhnya hidup rukun di Kei, mereka saling tolong-menolong di tengah perang yang terjadi.
Intinya, melalui Kei, Erni menyampaikan bahwa perang selalu membawa kesedihan mendalam bagi orang-orang yang mengalaminya. Perang melahirkan duka kehilangan, duka kerinduan, kesemrawutan hidup, juga keputusasaan. 
“…. Kerusuhan telah membuat kita saling membenci, kehilangan kepercayaan, dan depresi. Satu hal yang kita harus pelihara hanyalah hati nurani dan rasa belas kasihan. Jangan pernah membiarkan perang ini merenggut rasa belas kasih kita, jangan pernah!” (hlm. 146).
Kei membuka mata kita, membangkitkan sensitivitas kita bahwa pertikaian tidak pernah membawa manfaat apa pun, justru kerugianlah yang akan diperoleh. Berpikir cerdas, jangan mudah tersulut isu-isu liar, dan segeralah mencari solusi perdamaian, adalah hal-hal positif yang bisa dipetik dari Kei.

Jumat, 06 Maret 2015

[RESENSI NOVEL BERSETIA]

Heterogenitas Rasa dan Tokoh-tokoh yang Memesona



   
Judul Buku    : Bersetia: Cinta yang Kembali Takkan Seperti Semula
Pengarang     : Benny Arnas
Penerbit        : Qanita
Cetakan        : Pertama, April 2014
Tebal             : 604 halaman   
ISBN            : 978-602-1637-25-8

Kesetiaan dalam sebuah pernikahan adalah dambaan semua pasangan. Melalui novel perdananya ini, Benny Arnas menghadirkan tokoh-tokoh yang berjuang menunjukkan kesetiaan. Mereka berjuang, sebab bersetia bukanlah perkara mudah.
Novel ini berkisah tentang perjalanan cinta Embun dan Brins yang penuh tantangan. Penjebakan, kecemburuan, pelarian tanpa jejak, hingga tuduhan-tuduhan aneh yang sulit disangkal, adalah tantangan-tantangan dalam rumah tangga keduanya. Selain kisah Embun dan Brins, Bersetia juga menghadirkan romantisme kenangan-kenangan Cece Po terhadap Gun-gun, suaminya yang telah meninggal, juga ada kisah tentang Om Sel yang ditinggalkan istri dan (mungkin) juga anaknya. Lalu, saat Cece Po dan Om Sel saling jatuh cinta, orang-orang dari masa lalu tiba-tiba hadir, membuat cinta keduanya harus kandas.
Dikisahkan dalam Bersetia bahwa dari lapak tempat Embun menjaga kain-kain batik milik Cece Po, induk semangnya, gadis 23 tahun itu terpikat pada Brins yang sering dilihatnya memotret di sekitar lapaknya yang berada di Pasar Jatinegara. Brins pun demikian. Ia jatuh hati pada perempuan sederhana yang tampil cantik tanpa riasan itu.
Setelah perkenalan dan beberapa kali pertemuan, keduanya mantap melangkah ke jenjang pernikahan. Kejutan rumah baru, high tea nyaris setiap hari, hingga jalan-jalan berdua mengelilingi Jakarta, adalah momen-momen romantis pascapernikahan.
Sayangnya, kehangatan rumah tangga keduanya tidak berlangsung lama. Kelakuan bejat Brins yang disaksikan langsung oleh Embun, membuat perempuan itu nekat meninggalkan suaminya. Embun yang tidak tahu hendak ke mana, terseret ke tempat yang tidak pernah ia kunjungi sebelumnya. Tempat yang menguak banyak misteri dari masa lalu. Tempat yang akhirnya mempertegas keadaan psikologis Embun.
Brins yang merasa bersalah terkait hilangnya Embun, terus mencari keberadaan istrinya itu. Namun, mengapa saat Brins telah menemukan Embun, lelaki itu malah ingin membunuhnya? 

Heterogenitas Rasa
Bersetia penuh dengan heterogenitas (keanekaragaman) rasa. Pengarang menyuguhi pembaca dengan teh, kopi, eksotisme Lubuklinggau, serta masalah psikologis tokoh.
Teh adalah suguhan terbanyak dalam Bersetia. Hal tersebut disebabkan oleh keberadaan Embun sebagai Perempuan Teh, perempuan yang setiap seduhan dan racikan tehnya selalu nikmat. Aneka jenis teh (buatan Embun) dipaparkan dalam Bersetia, membangkitkan hasrat minum teh bersama orang-orang terkasih. Selain teh buatan Embun, pembaca akan diajak mengenali tempat-tempat minum teh di tanah air maupun luar negeri, melalui sosok Gun-gun, penikmat teh yang akut.
Tidak hanya teh, Bersetia juga menghadirkan kopi. Brins dan Om Sel, dua lelaki penikmat kopi, dua lelaki yang sama-sama kehilangan keluarga, bertemu di Coffee Coffee. Pertemuan yang intens membuat keduanya menjalin pertalian sebagai anak dan ayah angkat. “Bagi Brins, Coffee Coffee bukan sekadar kafe yang nyaman untuk minum kopi, tetapi juga taman bermain bagi perasaannya—ketika bahagia maupun gundah, ketika luang maupun sibuk.” (hlm. 66).
Setelah “menikmati” teh dan kopi, pembaca akan diajak ke Lubuklinggau, salah satu latar tempat dalam Bersetia. Eksotisme Palembang, khususnya Lubuklinggau, dihadirkan Benny melalui kehidupan masyarakat di kota tersebut, geliat pembangunannya, cara bertutur (dialek), hingga tempat-tempat wisata beserta kulinernya.
Terakhir adalah unsur psikologis yang membuat novel ini penuh ketegangan dan kejutan. Benarkah Brins tidak setia? Atau benarkah Embun yang lugu itu seorang pendusta?

Tokoh-tokoh yang Memesona
Brins, Embun, Cece Po, dan Sarah, adalah tokoh-tokoh yang memesona dalam Bersetia. Mereka menarik perhatian karena sifat-sifatnya, interaksi antartokohnya, dan kepiawaian Benny menghadirkan ‘beban masa lalu’ di diri tokoh-tokohnya itu. 
Embun memesona dengan kemampuan menyeduh tehnya. Dia digambarkan sebagai perempuan yang mudah cemburu. Embun juga memiliki kecintaan terhadap stasiun kereta. Selain itu, Benny menyertakan sebuah “gangguan” di diri Embun, membuat sosoknya semakin ‘misterius’ bagi pembaca.
Suami Embun, Brins, adalah tipe tokoh fiksi yang (akan) dikagumi pembaca. Dia tampan, mapan, dan penuh kejutan pada istrinya. Sosoknya yang romantis dengan segala latar belakang keluarganya menghadirkan kehangatan tersendiri dalam novel ini.     
Cece Po memesona karena nasihat-nasihatnya yang melegakan. Dia adalah seorang yang kesepian, namun di sisi lain, dia memiliki ketabahan. Kenangan-kenangannya bersama mendiang suaminya adalah momen-momen menghanyutkan dalam novel. “Kebahagiaan itu akan timpang bila belum menemukan kesedihan. Dan pertemuan itu akan memberi begitu banyak pelajaran bagi manusia apabila ia sudah menemukan pasangannya; Perpisahan.” (hlm. 596).
Terakhir, Sarah. Dia adalah sosok yang membangkitkan simpati di awal kisah (karena keceriaan dan keramahannya), lalu empati di akhir kisah (karena jati dirinya yang akhirnya terkuak). Percakapan gadis itu bersama ibunya di akhir novel begitu menyentuh. Sarat harapan dan kepercayaan.  

Selain heterogenitas rasa dan tokoh-tokoh yang memesona, Bersetia memiliki latar yang deskriptif. Penggunaan bahasa yang estetis juga merupakan poin plus dalam novel ini. 
Hal yang kurang digali pengarang adalah bagian pengungkapan sebab tokoh antagonis melakukan aksinya.  Bagian tersebut terkesan buru-buru, sehingga tokoh-tokoh yang terlibat dengan entengnya mengungkap kejahatannya sendiri.
Namun, lepas dari itu, Bersetia merupakan novel dengan eksplorasi tema percintaan yang sangat memikat. Teh, kopi, eksotisme Lubuklinggau, masalah psikologis, juga tokoh-tokoh yang memesona, berpadu dengan konflik yang dibangun pengarang. Konflik yang akan menunjukkan esensi bersetia.   

Sabtu, 24 Januari 2015

[RESENSI NOVEL THE SILKWORM (ULAT SUTRA)]

Misteri Kematian Novelis yang Cara Kematiannya Tertulis di Novel
Resensator: Susi S. Idris


Judul Buku       : The Silkworm (Ulat Sutra)
Pengarang        : Robert Galbraith
Alih Bahasa      : Siska Yuanita dan M. Aan Mansyur
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan           : Pertama, 2014
Tebal               : 536 halaman
ISBN               : 978-602-03-0981-1

Setelah sukses menguak misteri kematian Lula Landry di The Cuckoo’s Calling (Dekut Burung Kukuk), detektif partikelir Cormoran Strike kini beraksi kembali di The Silkworm (Ulat Sutra) untuk memecahkan teka-teki kematian seorang novelis bernama Owen Quine.
Kesuksesan Strike membuktikan bahwa kematian Lula Landry bukan aksi bunuh diri, telah memicu publisitas besar-besaran terhadap dirinya. Strike yang awalnya hanya memiliki satu klien, berubah menjadi detektif tersohor di metropolis. Pensiunan tentara yang kaki kanannya diamputasi akibat kecelakaan saat bertugas di militer itu, kini memiliki lebih banyak klien. Orang-orang menganggapnya mumpuni.
Anggapan itu pula yang memicu Leonora Quine datang kepada Strike. Istri novelis Owen Quine itu tidak mengira bahwa suaminya akan menghilang lebih lama dari biasanya dan tidak bisa dihubungi. Leonora pun berharap Strike bisa menemukan Owen, lalu membawanya pulang untuk menemui Orlando, anak tunggal mereka yang memiliki keterbatasan dan sangat merindukan ayahnya.
Awalnya, tugas Strike cukup mudah. Dia hanya perlu menghubungi seseorang di sebuah penerbitan, lalu mendesaknya untuk memberi tahu lokasi retret penulis (yang diyakini Leonora sebagai tempat pelarian Owen), setelah itu Strike cukup membawa Owen pulang. Tetapi, Bigley Hall, tempat retret penulis itu rupanya tidak pernah menerima tamu bernama Owen Quine.
Akhirnya, Strike harus menggali informasi lebih banyak kepada kliennya. Informasi terbaru dari Leonora membawa Strike bertemu dengan lebih banyak orang yang mengenal Owen. Hingga saat Strike tahu tentang rumah di Talgarth Road, detektif itu pergi ke sana. Di rumah itulah, Strike berhasil menemukan Owen, tetapi dalam kondisi tak lagi bernyawa dan sangat mengenaskan.
Novel misteri seri kedua karya Robert Galbraith ini menghadirkan novel di dalam novel. Ya, ada Bombyx Mori dalam The Silkworm. Bombyx mori adalah nama latin untuk ulat sutra. Bombyx Mori merupakan novel terakhir karangan Owen, belum terbit, namun beberapa orang (dan akhirnya tersebar luas), telah membaca naskah novel yang menghujat orang banyak tersebut. Yang membuat gempar, Owen tewas dengan cara yang nyaris sama dengan kematian Bombyx, tokoh utama di novel terakhirnya. Keduanya dibunuh secara sadis dengan menghadirkan “perjamuan makan”.
Seperti halnya novel misteri lain, selalu ada tokoh-tokoh yang sengaja dihadirkan untuk dicurigai pembaca sebagai tersangka. Dalam The Silkworm ada banyak nama yang dihadirkan Robert Galbraith sebagai ‘calon kuat pembunuh Owen Quine’.
Pertama, Leonora Quine, istri Owen. Kedua, Christian Fisher, kepala penerbit Crossfire Publishing. Ketiga, Elizabeth Tassel, agen Owen. Keempat, Daniel Chard, kepala (CEO) perusahaan penerbit Roper Chard, yang menerbitkan buku-buku Owen selama ini. Kelima, Kathryn Kent, pacar (selingkuhan) Owen. Keenam, Michael Fancourt, penulis. Ketujuh, Jerry Waldegrave, editor Owen.
Ketujuh ‘calon kuat pembunuh Owen’ yang dihadirkan Robert Galbraith tersebut masing-masing diberi motif yang sangat kuat untuk menjadi tersangka. Apalagi, ada nama-nama fiktif, yaitu Harpy, Vainglorious, Succuba, Cutter, Tick, Phallus Impudicus, dan Epicoene, dalam novel beraliran surealis Bombyx Mory. Dalam novel karangan Owen tersebut, Bombyx (gambaran dirinya) dibunuh bersama-sama oleh ketujuh tokoh fiktif tersebut. Mungkinkah pembunuh Owen melibatkan banyak orang? Lalu, mengapa Owen menulis novel yang menggambarkan cara kematiannya sendiri? Apakah Owen sudah tahu akan dibunuh oleh tokoh yang dia sebut dalam novel? Yang pasti, pelaku adalah pembunuh yang sangat keji, pembunuh dengan ide dan eksekusi yang sangat rapi. Pembunuh yang membuat Strike harus bekerja keras.
Dibantu asistennya, Robin Ellacott, Strike menyusun janji temu dengan ketujuh ‘calon kuat pembunuh Owen’, melontarkan pertanyaan demi pertanyaan, kemudian menyusunnya menjadi sebab akibat untuk penarikan kesimpulan. Strike dan Robin juga harus menemui banyak orang di luar ke tujuh ‘calon kuat pembunuh Owen’ tersebut: para saksi mata, anak Owen Quine, dan beberapa kenalan yang—sadar maupun tidak—turut membantu penyelidikan Strike. Selain itu, mereka juga berburu novel-novel Owen sebelum Bombyx Mori, termasuk mencari salinan novel terakhir itu, kemudian memaksakan diri masuk ke dunia ganjil rekaan Owen yang mampu membuat siapa pun mual dan muak saat membacanya. Yang paling sulit adalah menemukan barang bukti di tengah barikade Kepolisian Metro yang sejak kasus Lula Landry mulai berhati-hati terhadap keberadaan Strike.
Novel setebal 536 halaman dengan ukuran yang lebih panjang dari ukuran novel lazimnya ini memiliki alur yang tidak hanya membahas tentang kasus Owen. Bagaimana pun, Strike memiliki klien lain yang tetap harus ditangani. Strike memiliki kehidupan pribadi; menghadiri acara ulang tahunnya sendiri yang dibuat adik tirinya, menghadiri undangan makan malam seorang teman yang ditolongnya saat Viking meledak di Afghanistan (merenggut betis kanan Strike), juga memikirkan sang mantan kekasih yang akan segera menikah dengan anak bangsawan Skotlandia.
Selain itu, ada kisah percintaan Robin dengan Matthew, lelaki yang tidak menyukai Strike, lelaki yang menyesali keputusan Robin lebih memilih bekerja sebagai asisten detektif partikelir daripada menerima pekerjaan yang bergaji lebih tinggi.
Cerita yang cukup bercabang-cabang tersebut, di satu sisi menjadikan The Silkworm tidak membosankan, namun di sisi lain terkadang menimbulkan keinginan untuk segera “melompat” ke kasus Owen, meskipun pada akhirnya, pembaca (harus) memaklumi bahwa demikianlah novel berseri. Akan ada banyak konflik sampingan yang menyertai konflik utama. Akan ada banyak tokoh yang dihadirkan (sebagai pendukung kasus yang tengah ditangani Strike, maupun untuk keperluan seri berikutnya). Misalnya seperti yang terjadi pada tokoh Dave Polworth di The Silkworm ini. Di pertengahan cerita (hlm. 327-329), Strike mengingat Dave (teman karibnya sejak TK) yang pernah menantang hiu di lautan luas. Penggambaran yang terasa kurang penting itu ternyata merupakan pembuka bagi Robert untuk menghadirkan kembali tokoh Dave di bagian akhir (hlm. 498) sebagai orang yang membantu Strike menemukan “sesuatu” yang memuluskan jalan sang detektif mengungkap pembunuh Owen. Jadi, sebelum mulai membaca, marilah meyakini bahwa tidak ada tokoh mubazir dalam The Silkworm.
Robert Galbraith (nama alias J.K. Rowling) dalam The Silkworm begitu piawai menghadirkan konflik antartokoh maupun gerak-gerik tokoh sebagai pengecoh, yang memungkinkan tokoh tersebut dicurigai sebagai pelaku oleh pembaca. Jalan cerita yang rumit, tidak membuat satu pun keganjilan dalam logika cerita, karena Robert begitu detail menyusun urutan kronologis maupun hubungan sebab akibat.
Lepas dari kepiawaian Robert menyusun jalan cerita, kepandaian Strike dalam menentukan pembunuh Owen kurang terasa energinya. Artinya, Strike “tiba-tiba” langsung mengetahui pembunuh Owen (hlm. 441; SMS Strike kepada Robin), padahal di halaman sebelumnya, Strike sibuk memikirkan mantan kekasihnya. “Tiba-tiba” artinya tidak ada proses mendebat pikiran sendiri yang diperlihatkan kepada pembaca. Dan Robin pun tidak memiliki kemampuan untuk mendebat bosnya itu, sehingga saat Strike membuka kedok pembunuh, dia hanya terkesan sebagai Robert yang menyampaikan kesimpulan akhir kepada pembaca. Tidak ada kesan bahwa Strike memang cerdas, bahwa dialah yang merumuskan semua kesimpulan itu (bukan Robert).
Masih mengenai tokoh Strike. Pilihan Robert membuat Strike hidup dengan kaki kanan yang diamputasi dari lutut ke bawah, merupakan suatu ciri fisik yang menghadirkan keunikan tersendiri, namun hal itu terkadang menimbulkan kesan lemah pada Strike. Di The Silkworm, Strike digambarkan sangat kesulitan melawan penguntitnya (yang amatir). Dan berkali-kali Strike tidak berdaya dengan kondisi lututnya yang selalu bengkak. Bagaimana nasib Strike jika berhadapan dengan pembunuh-pembunuh yang lebih brutal, yang tidak mengharapkan keberadaannya? Mungkinkah Robert tengah mempersiapkan “kejutan” terkait kaki kanan Strike di serial-serial berikutnya?
Terjemahan The Silkworm ke bahasa Indonesia ini mudah dipahami. Kalimat-kalimatnya padu. Beberapa diksi bahkan terasa “Indonesia”-nya. Untuk urusan teknis, terdapat beberapa kesalahan tipografi, tetapi tidak sampai mengganggu pembacaan.
Gambar lelaki di sampul depan (yang bisa dengan mudah ditandai sebagai Strike), mencitrakan bahwa kaki Strike yang diamputasi adalah sebelah kiri, padahal sebenarnya sebelah kanan. Atau mungkinkah gambar itu hanya menunjukkan kaki kiri Strike yang maju ke depan (seperti tengah melangkah) dan kaki kanan memakai prostetik?
Kepada calon pembaca: bersiaplah untuk masuk ke percakapan-percakapan Strike dan Robin yang membuat penasaran di 150 halaman terakhir. Di sanalah puncak investigasi. Dan Strike akan melibatkan Robin dalam investigasi tersebut. Apa sebenarnya yang akan dilakukan Robin? Apa sebenarnya yang dirancang Strike untuk menjebak pelaku? Benarkah pelaku sedetail itu mempersiapkan aksinya? Robert Galbraith menyembunyikannya dengan sangat baik, bahkan saat kita mengira sang pelaku telah datang, sesungguhnya itu hanyalah jebakan.
Penyelesaian novel ini juga sangat berkesan. Chemistry Strike dan Robin di lembar-lembar terakhir The Silkworm menimbulkan tanda tanya: apakah kelak hubungan keduanya tidak sekadar rekan kerja? Hanya Robert yang bisa menjawab. Mengenai pekerjaan, sebagai informasi, Robin akan mengikuti kursus pengintaian. Dengan begitu, perempuan yang sudah memendam ambisi untuk bekerja dalam bidang penyelidikan kriminal sejak remaja itu “terancam” akan menjadi asisten detektif paling keren sejagat fiksi!
Jadi, mari menanti kolaborasi investigasi antara Strike dan Robin di serial berikutnya, berikutnya, dan berikutnya.

Sabtu, 23 Agustus 2014

[RESENSI NOVEL YOU ARE INVITED]

Undangan Spesial di Pernikahan Stacy dan John  
Resensator: Susi S. Idris


Judul Buku    : You Are Invited
Pengarang     : Kezia Evi Wiadji
Penerbit         : PT Grasindo
Tahun Terbit    : 2014
Tebal              : 210 halaman
ISBN              : 978-602-251-493-0

Salah satu persiapan penting dalam sebuah pernikahan adalah undangan. Siapa yang akan diundang? Para undangan tentu adalah orang-orang yang memiliki keterkaitan langsung dengan kedua mempelai maupun kedua keluarga mempelai. Beberapa di antaranya adalah undangan spesial. Mereka adalah orang-orang yang sangat diharapkan kehadirannya oleh mempelai pria maupun wanita.
Mengundang orang-orang spesial. Hal itulah yang juga dilakukan Stacy Tanu dan John Edward dalam novel You Are Invited karya Kezia Evi Wiadji. Stacy dan John adalah calon mempelai yang sedang menyiapkan acara pernikahannya. Pada bagian pertama dalam novel ini digambarkan kesibukan Stacy dan John dalam mendaftar orang-orang yang akan diundang. Hingga tercetuslah ide dari Stacy untuk mengundang Ben, mantan pacarnya, juga Dina, mantan pacar John.
Mendengar ide calon istrinya, John ragu. Pasalnya, ia masih menyimpan luka terhadap Dina. Namun akhirnya ia pun menelepon, mengabarkan tanggal pernikahannya dan meminta kesediaan Dina untuk hadir ke pestanya, seperti halnya yang dilakukan Stacy kepada Ben. Namun, apakah Dina dan Ben akan menghadiri pesta pernikahan tersebut di tengah kepedihan hati Dina dan juga masalah percintaan Ben dengan seorang gadis “istimewa”?
Selain kedua undangan spesial itu, Stacy dan John juga mengundang empat orang spesial lainnya, yaitu Lyla, Sonia, Edo, dan James. Namun, seperti halnya Ben dan Dina, mereka juga dihadapkan pada permasalahan masing-masing sebelum pesta pernikahan Stacy dan John berlangsung. Seperti apa permasalahan yang mereka hadapi?
Kezia membuat novel ini menjadi unik, karena You Are Invited tidak semata-mata berkisah tentang segala hal yang dihadapi Stacy dan John menjelang hari pernikahan mereka yang tinggal beberapa minggu. Kezia justru mengambil sisi lain dari sebuah acara pernikahan, yaitu mengisahkan para undangan (orang-orang yang diundang). Ide ceritanya sungguh menarik. Apalagi, novel ini menghadirkan enam kisah berbeda dari enam tokoh, yang masing-masing memiliki hubungan dengan Stacy maupun John.
Undangan spesial yang dikisahkan pertama dalam You Are Invited adalah Dina. Dina merupakan mantan pacar John. Perempuan yang telah menorehkan luka di hati John, karena selama mereka pacaran, Dina sesungguhnya masih mencintai Cello, lelaki berengsek yang selama ini memberikan harapan palsu padanya. Dina menjalin hubungan dengan John sesungguhnya hanya sebagai pelarian atas sakit hatinya pada Cello yang telah mencampakkannya. Namun, suatu hari di Bali, Dina kembali berjumpa dengan Cello. Dina yang diam-diam masih merindukan lelaki itu, kembali tergoda rayuan Cello. Namun sayangnya, John memergoki perselingkuhan itu. Ia akhirnya memutuskan meninggalkan Bali setelah tahu bahwa Dina lebih memilih Cello daripada dirinya.
Saat menerima telepon dari John, yang mengabarkan bahwa lelaki itu akan menikahi Stacy, perasaan Dina begitu kacau. Pasalnya, Dina kini tak lagi bersama Cello setelah lagi-lagi ditipu oleh lelaki itu. Dina pun mulai menyesal telah mengabaikan John yang baik hati. Akankah ia memenuhi undangan John?
Undangan spesial kedua adalah Ben. Ben adalah mantan pacar Stacy. Berbeda dengan John dan Dina, Ben dan Stacy mengakhiri hubungan mereka secara baik-baik. Masalah mereka adalah perbedaan “dunia”.
Saat menerima kabar dari Stacy bahwa mantannya itu akan segera menikah, Ben sangat senang. Ia berjanji akan hadir di pernikahan Stacy dan John, namun untuk membawa gadis pujaan hatinya yang bernama Princille, Ben masih ragu. Apa yang membuat Ben tidak yakin dapat mengajak gadis “istimewa” itu?
Undangan spesial ketiga adalah Lyla. Lyla adalah teman Stacy semasa kuliah. Saat menerima kabar pernikahan Stacy dan John, Lyla sedang mempersiapkan diri untuk mendaki gunung, kegiatan yang selama ini tidak pernah dilakukannya, karena Dodo, mantan pacarnya, sangat mengekang kegiatan Lyla bersama teman-temannya.
Lyla akhirnya mendaki gunung dengan beberapa pendaki lainnya, termasuk Ferry dan Santi, dua teman akrabnya. Di antara mereka juga ikut Roni, sepupu Ferry yang sedang liburan di Solo. Tanpa diketahui siapa pun, benih-benih cinta tumbuh di hati Lyla kepada pria tampan itu.
Namun, saat Lyla dirawat di rumah sakit atas kecelakaan pendakian yang hampir saja merenggut nyawanya, ia kaget sekaligus patah hati, karena ternyata Roni sudah memiliki kekasih. Di tengah keterkejutannya, Lyla mendengar pengakuan Ferry yang tak kalah mengejutkan. Apakah Lyla akan menghadiri pernikahan Stacy dan John di tengah kondisi fisik dan hatinya yang masih sakit?
Undangan spesial keempat dan kelima adalah Sonia dan Edo. Sonia adalah adik John, sementara Edo adalah teman John. Menjelang pernikahan kakaknya, Sonia tengah didera kesedihan dan kekecewaan pada suaminya, Andi, yang tengah dirawat di rumah sakit. Sementara di Batam, Edo tengah didera penyesalan, karena selama ini tidak berani mengungkapkan perasaannya pada Sonia, yang membuat Sonia harus menanggung beban berat selama ditinggal tugas di daerah terpencil. Apa sesungguhnya yang membuat Sonia kecewa pada suaminya? Lalu, masih adakah harapan Edo untuk bersama dengan Sonia?
Undangan spesial keenam dalam You Are Invited adalah James, kakak Stacy. Menjelang pernikahan adiknya itu, James mengalami musibah. Ia harus dirawat di rumah sakit akibat perlakuan mantan pacar Maria. Maria adalah perempuan yang kini menjalin hubungan dengan James. Uniknya, keduanya bertemu di tempat rehabilitasi narkoba. Selain itu, Maria juga memiliki wajah yang sangat mirip dengan seseorang di masa lalu James. 
You Are Invited merupakan salah satu novel pilihan program PSA2 (Publisher Searching for Authors) yang diadakan Grasindo. Dengan mengusung tema “Rasa Indonesia” pada PSA2 tersebut, Kezia turut menghadirkan nuansa Indonesia dalam novelnya ini. Dalam You Are Invited, pembaca akan disuguhkan berbagai kuliner nusantara, serta berbagai tempat menarik di beberapa wilayah di Indonesia yang penggambarannya cukup detail. Jakarta, Bali, Pekanbaru, Solo, Bandung, Batam, dan Medan, adalah latar tempat yang dihadirkan Kezia dalam novel in. 
You Are Invited karya Kezia Evi Wiadji adalah novel yang menarik dari segi konsep cerita, dan Kezia berhasil menghadirkan enam kisah berbeda yang memiliki satu penghubung, yaitu pernikahan Stacy dan John. Ya, enam kisah itu terasa sangat berbeda. Pembaca benar-benar merasa telah “berpisah” dengan Dina saat masuk ke cerita Ben, begitu seterusnya, hingga saat masuk ke kisah Sonia, Kezia mengingatkan kembali bahwa mereka semua saling berkaitan, yaitu dengan kembali menghadirkan sosok Stacy dan John.
Mengenai desain sampul, You Are Invited memiliki sampul yang artistik. Menyerupai sebuah undangan. Sangat sesuai dengan judul dan isi ceritanya. Apalagi di bagian bawah setiap lembarannya, terdapat ornamen khas undangan. Blurb-nya pun sangat “provokatif”, membuat pembaca ingin menjawab sendiri pertanyaan di blurb tersebut dengan membaca isinya.
Meskipun You Are Invited memiliki banyak kelebihan, namun novel ini juga tidak luput dari kekurangan. Pertama, dari segi penyajian. Novel ini kurang rapi dari segi penyajian cerita. Dengan menggunakan sudut pandang orang pertama tunggal, pencerita terkesan bernarasi semaunya. Bukan masalah penggunaan kata ganti gue, juga bukan mengenai bahasa tidak baku dalam percakapannya. Semua mengetahui bahwa hal tersebut tidak masalah. Namun, penggunaan bahasa tidak baku dalam narasi, membuat novel ini kurang nyaman dibaca. Misalnya: nomer (hlm. 48), nambah (hlm. 52), telor (hlm. 81), maksa (hlm. 86), nggak, ngeliat, dikit (hlm. 87), dan sebagainya. Bahkan di halaman 85 pencerita tertawa (hehehe) dalam narasinya. Selanjutnya, hampir semua tokoh berkata “yup” untuk menggantikan kata “ya”, padahal “yup” adalah gaya bicara yang khusus digunakan orang-orang tertentu. Selain itu, novel ini juga tidak luput dari masalah tipografi, baik kesalahan penulisan kata, maupun banyaknya tanda baca yang berdempetan dengan huruf setelahnya.
Kedua, pada halaman 86 dan 87. Bagian itu terasa kurang penting, karena percakapan Ferry dan Lyla juga tidak memengaruhi cerita, karena Lyla tetap mau mengantar Roni berjalan-jalan, sesuai dengan janjinya pada halaman 85.
Namun, lepas dari kekurangan-kekurangan tersebut, novel ini layak untuk dibaca. Kisahnya seru, karena keenam undangan spesial di pernikahan Stacy dan John tersebut memiliki ceritanya masing-masing sebelum akhirnya bisa (atau tidak) bergabung dengan undangan lain.        

Rabu, 11 Juni 2014

[RESENSI NOVEL (BUKAN) SALAH WAKTU]

Trauma, Cinta Lama, dan Nasib Rumah Tangga
Resensator: Susi S. Idris


Judul Buku       : (Bukan) Salah Waktu
Pengarang        : Nastiti Denny
Penerbit           : Bentang Pustaka
Cetakan           : Pertama, Desember 2013
Tebal               : viii + 248 halaman   
ISBN               : 978-602-7888-94-4

Mempertahankan keutuhan rumah tangga yang dipenuhi berbagai masalah, bukanlah sesuatu yang mudah, apalagi jika permasalahan tersebut disebabkan oleh ketidakjujuran dan orang ketiga. Hal tersebutlah yang dialami Sekar dan Prabu, tokoh utama dalam novel (Bukan) Salah Waktu karya Nastiti Denny. Rumah tangga Sekar dan Prabu tak lagi harmonis ketika satu demi satu rahasia keduanya terkuak.
Semua bermula saat Prabu mengetahui bahwa Sekar merahasiakan status orangtuanya yang telah lama bercerai. Prabu sangat kecewa dengan sikap tidak jujur istrinya itu. Jarak pun mulai terlihat di antara keduanya. Seiring kondisi tersebut, Bram hadir mengatakan kepada Sekar bahwa ayah Prabu telah menghancurkan kehidupan keluarganya. Prabu juga telah memiliki anak dari Laras, kekasih Prabu saat SMA.
Demi membuktikan perkataan Bram, Sekar mengintai Prabu saat bekerja di luar kota. Pada pengintaian itu, Sekar menyaksikan sendiri kedekatan suaminya dengan Laras. Sekar kemudian memilih menenangkan diri dengan menginap di rumah mamanya. Rumah yang sudah bertahun-tahun tidak pernah dikunjunginya, karena Sekar yakin mamanya tidak pernah mengharapkan kedatangannya. Namun, dugaan Sekar ternyata salah. Melalui Mbok Ijah, Sekar akhirnya tahu bahwa kehadirannya di rumah tersebut selalu dinantikan oleh mamanya.
Dalam masa-masa menenangkan diri di rumah tersebut, Sekar masih saja didera trauma yang di awal novel telah dikisahkan. Trauma Sekar disebabkan oleh ketidakharmonisan hubungan kedua orang tuanya di masa lalu. Melihat Sekar suatu hari bersembunyi di bawah meja makan sebagai akibat dari traumanya, mama Sekar akhirnya mengungkapkan sebuah rahasia kepada Sekar.
Di sisi lain, Prabu yang menunggu kepulangan istrinya, terus dilanda kekalutan. Kabar bahwa ayahnya adalah penyebab ayah Laras bunuh diri, cukup membuatnya kaget. Begitupula kabar bahwa Wirendra adalah anaknya bersama Laras. Prabu pun pasrah. Ia menyerahkan nasib rumah tangga mereka kepada Sekar.
Tuntas membaca (Bukan) Salah Waktu, terasa bahwa judul novel dan gambar jam di sampul sangat mewakili keseluruhan cerita. Blurb-nya pun tidak memberi keterangan berlebihan (hanya berupa gambaran perasaan Sekar) yang cukup membuat penasaran. Selain itu, novel ini sangat minim kesalahan penulisan atau masalah tipografi, sehingga sangat nyaman dibaca.
Novel (Bukan) Salah Waktu disajikan dengan deskripsi yang begitu detail, terutama mengenai latar tempat dan suasana. Meskipun alurnya kurang memiliki konflik tajam, namun novel yang mengetengahkan permasalahan keluarga (trauma seorang anak dan cinta lama seorang suami) ini tetap asyik untuk dituntaskan.
Sedikit kekurangan novel ini adalah mengenai chemistry Sekar dan Prabu yang kurang terasa. Sebelum konflik utama dihadirkan, nyaris tidak ada gambaran keromantisan hubungan antara Sekar dan Prabu, sehingga pembaca mungkin saja sulit merasa “iba” saat rumah tangga keduanya didera masalah. Namun, ada satu bagian yang cukup “menolong” kekurangan tersebut (meskipun kehadirannya hampir di bagian akhir, tetapi sangat berkesan), yaitu saat Prabu meluapkan kerinduannya pada Sekar dengan cara menuliskan beberapa hal tentang istrinya di potongan-potongan kertas (hlm. 168-169). Selain bagian tersebut, chemistry Sekar dan Prabu kurang terasa dalam keseluruhan cerita. Apalagi di bagian akhir (penyelesaian) cerita, Nastiti justru fokus pada anak Prabu bersama Laras dan mengabaikan komunikasi antara Sekar dan Prabu yang tentu dinantikan pembaca.
Akhirnya, sebagai naskah pilihan pemenang lomba menulis “Wanita dalam Cerita”, novel ini memang tidak mengecewakan. (Bukan) Salah Waktu mengandung banyak pesan bermanfaat: kesetiaan, kejujuran, dan keikhlasan memaafkan.


Sabtu, 24 Mei 2014

[Resensi Buku Say: No, Thanks]

Buku Cerdas untuk Generasi Muda Tanpa Miras
Resensator: Susi S. Idris



Judul Buku        : Say: No, Thanks
Penulis              : Fahira Idris
Co Writer          : Sofie Beatrix dan dr. Tamam Jauhar
Ilustrator            : @L1LIO
Penerbit             : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan             : Pertama, 2014
Tebal                 : 213 halaman
ISBN                : 978-602-03-0324-6

        Miras atau minuman keras sangat berbahaya bagi orang-orang yang mengonsumsinya, karena dapat menyebabkan hilangnya kesadaran, kecanduan, bahkan dapat menimbulkan gangguan kesehatan yang berujung pada kematian. Miras juga merupakan pemicu terjadinya tindak kriminal dan kecelakaan lalu lintas yang seringkali merugikan banyak orang. Oleh sebab itu, sudah seharusnya barang berbahaya tersebut dijauhi oleh siapa pun, terutama oleh para remaja (generasi muda). Namun kenyataannya, saat ini semakin banyak pengguna miras yang berasal dari kalangan remaja. Hal tersebut disebabkan karena orang-orang di bawah usia 21 tahun memiliki kondisi yang masih labil, sehingga cenderung mudah dipengaruhi, termasuk dalam hal mencoba minuman keras.  
        Menyadari bahwa peredaran miras di kalangan generasi muda Indonesia sudah sangat memprihatinkan, Fahira Idris menuangkan gagasannya tentang bahaya mengonsumsi miras dalam buku berjudul Say: No, Thanks. Buku ini merupakan salah satu cara Fahira Idris untuk mengampanyekan bahaya miras secara cepat dan menjangkau seluruh wilayah di Indonesia. Selain melalui media buku, Ketua Gerakan Nasional Anti Miras ini juga gencar melakukan kampanye langsung di sekolah-sekolah tentang bahaya mengonsumsi miras melalui program AntiMiras Goes To School.
        Say: No, Thanks karya Fahira Idris yang dibantu co writer Sofie Beatrix dan dr. Tamam Jauhar ini sangat menarik untuk dibaca, karena ditulis dengan gaya bahasa yang ringan khas anak muda. Selain itu, buku ini juga disertai dengan gambar-gambar (ilustrasi) lucu sebagai pendamping pada setiap pembahasan.
        Buku dengan sampul dominan berwarna merah ini terdiri atas tiga belas bagian yang menyajikan beragam informasi mengenai miras, mulai dari apa itu miras, sejarah miras, bahaya mengonsumsi miras, hingga kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan untuk memerangi miras. Ketiga belas bagian tersebut secara berurutan berjudul “Kenalan Sama Miras”, “Sejarah Miras”, “The Drunken Masters”, “Alcohol Drag Me to Hell”, “Look What U’ve Done!”, “Aku Minumnya Dikit Aja, Kok…”, “Bang Napi: Alkohol pada Minuman Ringan, Waspadalah! Waspadalah!” “The Battle of Alcohol Abusers”, “Kriminalitas Merajalela”, “Dari Miras ke Narkoba”, “Yuk, GeNAM Style aja!”, “Gimana Caranya Bergabung Sebagai Pejuang Anti Miras?”, dan “Titipan Uni Fahira untuk Ortu Kalian”.
        Target pembaca buku ini adalah para generasi muda di bawah usia 21 tahun. Fahira memang memfokuskan kampanye anti miras kepada anak-anak muda. “… apabila pendidikan kita berikan kepada anak-anak remaja di bawah 21 tahun, kelak mereka dewasa akan lebih memilih menghindari MiraS dengan sendirinya (hlm. 185).”
        Buku Say: No, Thanks ini sangat seru untuk dibaca, karena pemaparan seputar miras disajikan dengan humor-humor yang menggelitik, namun tetap memberikan wawasan bermanfaat. Misalnya pada bagian pertama dalam buku ini yang berjudul “Kenalan Sama MiraS”. 
        Yup, MiraS! Bukan Mira W (penulis), bukan Mira A (temen SMP saya yang nyembunyiin bekal  makanan saya), bukan pula artis model cantik… Tyas MiraS… Ih! (hlm. 2).” 
        Setelah humor tersebut, di halaman selanjutnya (hlm. 3) dijelaskan bahwa alkohol yang ada di dalam minuman keras adalah golongan Etanol yang memiliki efek psikoaktif, yang artinya akan secara aktif memengaruhi kejiwaan si peminum sehingga timbullah yang disebut dengan GMO atau Gangguan Mental Organik.
        Selain itu, pada bagian “Kenalan dengan MiraS” juga dibahas bagaimana modus miras saat mengajak seseorang berkenalan. Pembahasan ini membuka mata kita bahwa orang-orang yang menawarkan miras selalu menghasut dengan iming-iming luar biasa, padahal sudah jelas bahwa miras tidak memiliki manfaat seperti yang sering dikatakan para penghasut tersebut.
        “Pengen tambah energi? Coba ini, deh."
        “Susah move on? Kamu pasti butuh ini."
       A
tau yang paling sering kita denger, “Sob, kamu ngga nyoba, ngga gaul!"
        Trus kalau minum MiraS kamu jadi gaul? Apa dengan minum MiraS kamu yang cupu bakalan jadi keren? Ngga sama sekali! (hlm. 5).
        Say: No, Thanks merupakan buku yang sangat informatif. Banyak informasi penting seputar miras yang dibahas dalam buku ini, misalnya mengenai jenis-jenis miras yang beredar di Indonesia, kenyataan bahwa miras dijual bebas di supermarket, minimarket, hingga di warung-warung kecil, serta informasi bahwa sejak tahun 2009 telah ada Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia mengenai larangan menjual miras di beberapa tempat umum dan larangan menjual miras pada pembeli di bawah usia 21 tahun. Informasi-informasi tersebut mungkin masih sedikit yang mengetahuinya, sehingga dengan membaca buku ini, para pembaca bisa lebih waspada dan ikut aktif memerangi peredaran miras di Indonesia, khususnya di lingkungan tempat tinggal masing-masing. 
        Pembahasan yang tak kalah informatif dan menarik juga terdapat pada bagian “The Battle of Alcohol Abusers”. Pada bagian ini dibahas mengenai artis-artis dunia yang kecanduan miras dan butuh bertahun-tahun untuk bebas dari belenggu minuman keras. Semua artis yang dibahas dalam bagian ini ternyata menyesal telah mengonsumsi miras, karena kehidupan sosial mereka menjadi berantakan akibat kecanduan miras. Daniel Radcliffe, misalnya. Si Harry Potter ini mengaku bahwa sebelum mengenal alkohol ia adalah pribadi yang sopan, namun setelah mengonsumsinya dan kecanduan, Daniel mengaku menjadi pribadi yang menyebalkan (hlm. 95).
        Tulisan dalam buku ini dicetak dengan ukuran huruf yang cukup besar, sehingga tidak menyulitkan saat dibaca. Pembahasan pada setiap bagian dalam buku ini juga tidak terlalu banyak, sehingga pembaca tidak mudah jenuh. Selain itu, setiap selesai membahas satu bagian, ditampilkan artikel para pemenang Lomba Blog Anti Miras tahun 2013.
        Ada tiga belas artikel pemenang Lomba Blog Anti Miras yang ditampilkan dalam buku ini. Artikel-artikel tersebut juga ditulis dengan gaya bahasa yang ringan dan penuh dengan informasi bermanfaat mengenai bahaya mengonsumsi miras. Misalnya pada artikel pertama dalam buku ini yang berjudul “Yuk, Perang Melawan Miras” karya @rizkialfariizi. Artikel ini mengajak para pembaca untuk sama-sama memerangi miras. Ajakan tersebut diperkuat dengan penjelasan tentang bahaya miras bagi pengonsumsinya. Artikel ini ditulis dengan gaya bertutur yang kocak, seperti pada kutipan berikut: 
        .... Kalo lo nyoba MiraS, seger di awal aja. Akhirnya, bisa abis badan lo. Udah sakit, gangguan mental, masa depan hancur, dosa lagi! Sama aja kayak udah jatuh ketimpa tangga, mau bangkit digigit anjing, mau lari keserempet becak, mau marah ditabrak tukang roti, sakit, mau berobat dokternya meninggal, lo pulang dokternya hidup lagi. Nggak enak ‘kan? Makanya, stop MiraS! (hlm. 23).
        Blogger lain juga menuangkan gagasan-gagasan anti miras yang tak kalah menarik dan informatif. Banyak di antara para blogger tersebut memulai dari pengalaman mereka saat bersinggungan langsung dengan pengonsumsi miras. Tulisan-tulisan tersebut secara umum menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat Indonesia terhadap bahaya miras masih sangat rendah, sehingga masih banyak yang mudah tertipu dengan rayuan orang lain untuk mengonsumsi miras. 
        Meskipun memiliki banyak kelebihan, buku ini juga tidak luput dari kekurangan, di antaranya adalah terdapat kalimat-kalimat yang tidak terstruktur dengan baik dan hal itu ditemukan pada beberapa tulisan para blogger pemenang Lomba Blog Anti Miras 2013.
        Pada artikel berjudul “Generasi Emas Tanpa Miras” karya Roni Irawan kita akan menemukan beberapa kalimat yang tidak terstruktur dengan baik. Penyajiannya juga sedikit berbelit-belit, sehingga mungkin saja pembaca akan melewatkan artikel ini, padahal sebenarnya isi artikel ini sangat menarik. 
        …. Betapa kagetnya kita, kita ketika yang menjadi pengemudi dari kendaraan/bus yang kita tumpangi dikemudikan orang yang lemah kesadarannya, pasti kita akan bertanya-tanya bagaimana nasib kita? (hlm. 170-171).
        Kalimat-kalimat yang tidak terstruktur dengan baik juga terdapat pada artikel berjudul “Pendidikan dan Agama, Benteng Kuat Menjauhi Miras” karya pemilik blog aslich.blogspot.com. 
        …. Para remaja yang penuh rasa ingin tahu dan hanya menginginkan kesenangan tanpa berpikir panjang berpikir, hendaknya dikendalikan dengan pola pendidikan yang tepat. Pendidikan tidak hanya berlangsung di sekolah saja, namun juga harus ada pengawasan dari orang tua dan lingkungan sosial mutlak diperlukan. Dengan menciptakan lingkungan bebas alkohol dan minuman keras, membatasi ruang gerak distribusi MiraS akan menutup peluang penyalahgunaan MiraS pada remaja serta akibatnya (hlm. 190-191).
        Selain mengenai struktur kalimat, dalam buku ini terdapat pula kalimat yang tidak memiliki lanjutan. Misalnya pada artikel berjudul “MiraS Menggodaku” karya blogger Anggita Bayu. 
        …. Ternyata temen gue ada yang lebih parah, dia sejak SD sudah minum MiraS! Dengerin aja percakapan gue berikut ini. Dari situ bisa disimpulkan bahwa mereka mulai minum minuman keras atau beralkohol berawal dari ajakan dan coba-coba yang berakhir dengan kecanduan (hlm. 80).
        Berdasarkan kutipan tersebut dapat dilihat bahwa tidak ada percakapan yang dimaksud Anggita. Kalimat selanjutnya hanya berupa kesimpulan dari percakapan yang tidak ditampilkan.
        Meskipun demikian, kesalahan-kesalahan teknis tersebut tidak sampai mengurangi kemanfaatan informasi dalam buku ini. Kekurangan-kekurangan tersebut tentunya bisa diperbaiki pada cetakan selanjutnya, agar buku ini menjadi lebih nyaman untuk dibaca.
        Akhirnya, Say: No, Thanks merupakan buku cerdas yang patut dibaca oleh generasi muda Indonesia. Banyak informasi bermanfaat dalam buku ini yang akan menambah wawasan kita mengenai dampak buruk mengonsumsi miras. Sudah saatnya generasi muda Indonesia berani berkata: no, thanks saat ditawari mengonsumsi miras. Katakan tidak pada miras, katakan ya pada prestasi!

* Resensi ini diikutkan dalam Lomba Menulis Resensi Buku Say: No, Thanks karya Fahira Idris. Info lomba klik di sini

Kamis, 15 Mei 2014

[DIARY SANG ZOMBIGARET]

Rokok Bikin Kagok*
Karya Susi S. Idris

Januari 2014
        Kupandangi kamar kos berukuran 4 × 4 meter ini dengan tatapan sendu. Kemarin aku masih ada di rumahku yang mewah, sekarang aku harus tinggal di kamar pengap dengan lantai semen dan dinding tripleks seperti ini.
        “Semuanya salah, Mas. Sudah kubilang sejak kita pacaran dulu, jangan merokok! Tapi Mas nggak mau dengar,” ucap istriku sambil melipat pakaian dan memasukkannya ke dalam kardus. Rumah mewah kami dan semua isinya telah disita oleh pegadaian, karena kami tak mampu membayar cicilannya hingga jatuh tempo kemarin. Rumah itu memang terpaksa kami gadaikan untuk biaya pengobatan kanker mulut akut yang kuderita.
        Aku hanya bisa diam mendengar ocehan istriku. Sebenarnya ingin sekali kukatakan kalimat penyesalanku, tetapi tak satu pun kata bisa keluar dari mulutku yang sakit ini. Akhirnya semua kata-kata di benakku lesap jadi air mata.
        Melihat tumpahan air mataku, istriku mendesah, kemudian menyodorkan tisu padaku. “Nggak usah nangis, Mas. Semuanya udah terjadi, kita nggak mungkin bisa kembali ke masa lalu.”

Juli 2004

        “Hans, kamu merokok, ya? Merokok itu nggak baik untuk kesehatan, Sayang. Banyak orang meninggal karena rokok.”
        “Kamu tenang aja, Yes. Itu hanya omong kosong kok. Orang meninggal ya karena sudah ajal.”
        “Iya, tapi kalau penyebab meninggalnya karena kanker paru-paru, dan kanker itu disebabkan karena kebiasaannya merokok, ya tentu menyedihkan.”
        “Terserah kamu deh, yang penting kita masih pacaran kan?”
        “Asal kamu nggak merokok lagi.”
        “Mm.”
 ***
        Aku tidak pernah kelihatan merokok lagi di hadapan kekasihku itu. Aku pun selalu menggosok gigi dan makan permen wangi sebelum ketemuan dengan Yessi. Namun, diam-diam aku masih selalu mengisap benda itu.

Februari 2014
        Bubur nasi di hadapanku belum kusentuh. Hanya makanan inilah yang kini bisa kumakan dengan kondisi bibir dan gusi yang bengkak.
        “Dimakan dong, Mas,” ucap istriku yang sedang berdandan di depan cermin. “Nanti Mas mati kalau nggak makan.”
        “Kao … mohema … na?” tanyaku sambil menahan nyeri di mulut setelah menelan sesendok bubur. Istriku berbalik dan melongo. Ia mungkin bingung dengan kata-kataku.
        “Oh, aku mau pergi cari kerja dulu, Mas. Kalau tidak ada yang kerja, bisa-bisa kita diusir dari kamar ini,” ucap Yessi seraya mengambil sepatunya dan bergegas pergi. Dadaku sesak bukan main. Aku merasa menjadi suami yang tidak berguna lagi.

Maret 2014
        Aku terus melap pendarahan di gusiku dengan sapu tangan. Sejak pindah ke kos ini, aku tak lagi melakukan kemoterapi karena keterbatasan biaya. Hari-hari hanya kuisi dengan melamun di depan jendela, menahan sakit, menunggu maut.
        Tiba-tiba perutku keroncongan. Aku langsung melirik jam di dinding. Sudah pukul 16.15 dan aku belum makan sejak pagi. Hampir dua minggu ini Yessi selalu pergi pagi-pagi sekali dan pulang menjelang magrib. Katanya dia bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran. Aku tidak mempermasalahkan pekerjaannya. Yang kusedihkan, akhir-akhir ini Yessi tidak pernah lagi membuatkanku sarapan.
        Aku berdiri dari kursi plastikku dan mencari-cari uang di laci dengan tangan yang gemetar. Ada dua uang koin seribu rupiah. Aku langsung mengambilnya dan segera keluar kamar untuk membeli bubur instan di warung.
        Dengan tertatih-tatih aku berjalan menuju sebuah warung di ujung lorong. Darah dari  mulutku terus mengalir dan aku lupa membawa sapu tangan. Di tengah jalan, tiba-tiba segerombolan anak kecil meneriakiku dengan sebutan … Zombi.
        “Eh, liat dia! Dia mirip Zombi!”
        “Hahaha … iya, dia Zombi.”
        Ketiga anak kecil ini lalu bertepuk tangan sambil mengentak-entakkan kakinya di tanah. Mereka lalu berteriak dengan nada yang kompak. “A-da Zombi, a-da Zombi, a-da Zombi.” Aku menatap kesal pada mereka. Semuanya pun bergegas lari.
        Aku tidak jadi ke warung dan segera kembali ke kamar dengan perasaan sedih. Di kamar aku buru-buru mengambil cermin milik istriku. Saat pantulan wajahku terlihat di cermin bundar ini, tubuhku mendadak gemetar.
        Tidaaak, aku bukan Zombi! Teriakku tanpa suara.

* Kagok adalah (1) susah atau menjadi terhalang untuk melakukan sesuatu; (2) sulit melafalkan kata.