Jumat, 20 November 2015

[Cerpen] Cinta Membawaku Pulang

Karya Susi S. Idris

Sebelas jam lalu, guncangan hebat menyerang pertahananku. Gempa di depan mata seketika menjalar ke dada, membuat limbung, membuat segala kecurigaan bersorak menang. Aku berlari dengan air mata yang berhasil menggelincirkanku ke masa tiga tahun lalu saat aku juga lari dari rumah, tetapi saat itu mataku berbinar. Oh, perasaan hancur kini mengepung. Melumpuhkan. Memenjarakan.
Aku sembunyi sebagai perempuan patah hati di kamar hotel yang gelap ini. Lampu padam. Gorden menutup jendela kaca secara sempurna, sedikit cahaya berasal dari sinar pagi yang menerobos ventilasi. Sudah pagi dan aku masih saja menangis di tempat tidur.
Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi seorang istri selain mendapati suaminya selingkuh. Aku kini tahu rasanya dibuang, direndahkan, rasanya seperti ingin mati. Bersamaan dengan kenyataan menyakitkan itu, dering ponsel menginterupsi. Suara di seberang terdengar sendu dan penuh harap. Guncangan lain hadir. Anakku sakit. Anak yang sudah tiga tahun kutinggalkan, memanggil ibunya dalam sakit. “Pulanglah, Rin, demi anakmu,” kata Mas Haris sepuluh jam lalu. “Devan sangat merindukan ibunya.”
Konsep pulang menjadi sangat tidak pantas kupraktikkan. Bagaimana mungkin kakiku kembali ke rumah yang nyaris sembilan tahun kutinggali dengan sumpah serapah? Bagaimana mungkin orang-orang yang sudah kucampakkan malah menginginkan kehadiranku?
Mereka tidak tahu bahwa aku baru saja dicampakkan lelaki yang selama tiga tahun ini kubanggakan. Bagaimana jika mereka tahu?
●●●
Menyingkirkan segala egoisme, tepat dua hari setelah telepon Mas Haris, akhirnya hari ini aku kembali ke Kendari, kota yang menyimpan banyak kenangan bersama mantan suami dan anak semata wayangku. Bagaimana pun, masa pacaran dan masa awal pernikahan, adalah hari-hari yang menyenangkan. Pada akhirnya, aku kalah oleh sifat materialistis di diriku. 
Kuberikan koperku kepada sopir taksi untuk dimasukkan ke bagasi mobilnya, dan aku hanya mematung di sisi mobil. Setelah lelaki tinggi kurus itu kembali di depan kemudi, barulah aku bergerak, masuk ke kursi penumpang dengan tas Gucci di genggaman. Ini terasa sesak. Setelah perjalanan udara sekitar satu jam lebih, sekarang adalah perjalanan darat yang kurasa tidak akan lebih dari dua puluh menit. Dua puluh menit lagi aku sampai? Aku menurunkan kaca jendela. Kecemasan semakin menyesakkan.  
“Ke mana, Mbak?” Sopir taksi bertanya setelah memasang sabuk pengamannya.
“BTN Wirabuana,” kataku sembari mengempaskan tubuh ke sandaran jok. Mobil pun mulai melaju, meninggalkan pelataran Bandara Haluoleo ini.
Tiga tahun kuhabiskan waktu bersenang-senang di Jakarta tanpa pernah memedulikan anakku. Seorang duda tanpa anak yang usianya lebih tua delapan belas tahun dariku, menginginkanku menjadi istrinya setelah melihatku bernyanyi di sebuah acara pernikahan. Aku luar biasa senang dan merasa beruntung. Meskipun duda dan setengah baya, lelaki itu adalah seorang pengusaha yang restorannya memiliki puluhan cabang di Indonesia. Aku tidak perlu lagi susah-susah bernyanyi untuk mendapatkan tas atau baju bermerek, untuk mendapatkan segala kemewahan yang telah lama kudambakan. Sebab, bersama Mas Haris, aku hanya hidup dalam keterbatasan ekonomi, yang dengan entengnya dibantah lelaki itu. “Kehidupan kita sudah lebih dari cukup, Rin. Kita harus pandai bersyukur, pandai mengelola keuangan. Harta yang banyak pun akan habis jika tidak dikelola dengan baik.”
Aku muak dengan nasihat bijak seperti itu. Aku muak dengan Mas Haris yang setiap bulan hanya bisa memberi tiga juta lima ratus ribu untuk biaya hidup. Aku muak dengan lelaki yang tidak mau menjual tanah warisan orang tuanya untuk mengganti motor kami dengan mobil, untuk mengganti BTN dengan rumah mewah, untuk membelikanku barang-barang bermerek. Aku muak, maka seluruh kemuakan itu langsung kujadikan tombak untuk menggugat cerai Mas Haris. Bukan itu saja, aku bahkan lancang mengatakan bahwa telah ada lelaki lain yang kucintai. Lelaki yang seratus kali lebih mapan dari Mas Haris.
Meski keinginan bercerai bukan pertama kali kuungkapkan saat itu, Mas Haris tetap kaget dan sangat terpukul dengan keputusanku. Dia meminta aku tenang, sabar, dan berpikir ulang. Dia memberiku nasihat demi nasihat, terutama untuk  membuka mataku bahwa harta bukanlah kunci utama kebahagiaan. “Mewah adalah kesederhanaan yang dibalut kebersamaan, Rin. Kebersamaan dengan orang-orang yang menyayangi kita sepenuh hati.” Sebagai guru BK di sebuah SMA, Mas Haris punya ribuan kalimat bijak, yang seringkali melegakan, tetapi lebih sering menjengkelkan bagiku.
Kenyataannya, Mas Haris benar. Meski tiga tahun aku hidup dalam kemewahan, tidak sedikit pun kuraih kasih sayang keluarga. Suamiku datang hanya di saat dia menginginkan pelukan, sedangkan ibu mertuaku yang entah mengapa sangat benci padaku, selalu membuatku terlihat rendah di mata orang lain. Beberapa teman sudah sering melaporkan keberadaan perempuan lain suamiku, tetapi aku berusaha untuk tidak memercayai mereka. Sesungguhnya, hati kecilku memendam banyak kecurigaan, keresahan, tetapi semuanya tertutupi oleh ketakutan. Aku takut segala kemewahan yang diberikan suamiku, direnggut kembali dalam sekejap. Direnggut oleh kenyataan buruk: perselingkuhan.
Dua hari lalu, kenyataan itu menampakkan diri. Seorang teman mengirimkan alamat hotel tempat suamiku (katanya) berkencan. Saat memergoki suamiku dengan seorang perempuan di tempat tidur, kukira dia akan menyesal, karena sebenarnya aku sudah siap membukakannya pintu maaf. Ternyata, suamiku malah memaki, mengataiku tidak tahu diri, dan dengan entengnya dia langsung melontarkan kata cerai.
Menyakitkan!
Tanpa kusadari, ingatan-ingatan itu membuat pipiku kini basah oleh air mata. Mula-mula menetes tanpa suara, lalu isakan lolos dari mulutku. Sopir di depan kemudi menoleh kecil, “Maaf, Mbak," tegurnya, "ada masalah?”
“Tidak,” kataku bohong. Masalahku banyak, pelik, dan semuanya terjadi karena kebodohan dan keserakahanku. Betapa malunya untuk kuberitahu ke orang asing.
●●●
Kusandarkan punggung di tembok rumah bercat jingga ini. Di sampingku terbingkai dua jendela berkaca riben, dan di samping jendela ada pintu kayu bercat cokelat tua yang saat ini tertutup rapat. Segalanya masih sama dengan yang dulu, setidaknya di bagian depan rumah Mas Haris ini. Aku mendesah saat melihat bunga-bunga di pekarangan yang tumbuh subur. Asoka, mawar, kembang sepatu, kaktus, aneka palem, semua kian merindangkan rumah kecil berlantai satu ini. Dulu sekali, aku dan Mas Haris sering merawat bunga bersama-sama, setelah itu kami meminum teh di kursi taman—yang hingga sekarang masih setia di posisinya, di sudut kanan pagar, tepat di hadapanku saat ini.
Pukul 15.10 di ponselku. Suasana sepi, tetapi dari motor merah yang terparkir di bawah pohon mangga samping rumah, aku yakin Mas Haris dan Devan ada di dalam. Kata Mas Haris, Devan dirawat seminggu di rumah sakit karena demam berdarah. Selama di rumah sakit hingga dipulangkan empat hari lalu di rumah ini, Devan selalu memanggil-manggil ibunya. Aku! Dan, aku masih mengumpulkan keberanian untuk sekadar mengetuk pintu.
Derit pintu pagar lalu terdengar. Bersamaan dengan itu, seorang perempuan yang kutaksir seusia orang tuaku masuk ke pekarangan dengan kantung plastik di kedua tangannya. Aku langsung berdiri tegak. Pandangan kami saling beradu, hingga akhirnya perempuan gemuk berjilbab sepinggang itu tersenyum dan berkata dengan nada bertanya, “Ibunya Devan?”
“I-iya,” kataku kikuk. Aku belum pernah bertemu perempuan ini sebelumnya, tetapi dia mengenalku.
“Bapak sama Devan ada di dalam,” ucapnya seraya membuka pintu. “Ayo masuk, Bu, saya kerja bersih-bersih di sini, dua kali seminggu. Ibu bisa panggil saya Bibi.”
Oh, ya, Mas Haris tentu tidak bisa mengurus rumah ini sendirian. Aku menarik koperku, mengikuti Bibi masuk. “Saya tadi baru dari sini,” terangnya. “Pas sampai rumah, lihat banyak semangka, langsung ingat Devan. Kebetulan, rumah saya hanya lima ratus meter dari sini.”
Aku teringat bahwa Devan sangat menyukai semangka. Semoga beberapa pakaian di koper, bisa menjadi oleh-oleh yang juga disukai bocah sepuluh tahun itu.
“Ayo duduk, Bu. Saya panggil Bapak dulu.” Kedatanganku hari ini memang tidak kuberi tahu sebelumnya kepada Mas Haris. Aku tidak mau ditunggu di pekarangan seperti kebiasaan Mas Haris dan Devan saat aku masih jadi penyanyi di berbagai acara.
“Rin, kamu datang, Rin?” Aku mendongak. Sosok tinggi tegap yang seusia denganku—36 tahun—mendekat. Tidak ada yang berubah dari wajahnya. Kumis dan janggut tipis masih dipertahankannya hingga kini. Tubuh sawo matangnya dibalut kaus cokelat pudar dan celana kain selutut yang sangat kukenali. Oh, kenapa aku tidak berpikir untuk membawakannya oleh-oleh?
Aku langsung berdiri dan menjabat tangannya. “Devan mana, Mas?” tanyaku mengalihkan pembicaraan agar pembahasan tentang kepulanganku, tidak berlanjut. Mas Haris mengatakan Devan ada di kamarnya. Aku minta izin untuk menemuinya, dan Mas Haris mengingatkan bahwa Devan “anak kami”. Sungguh, aku merasa buruk mendengar itu. Aku bukan ibu yang baik.    
“Ibu?” Devan terkejut saat melihatku di ambang pintu kamarnya. “Ibu, Ibu datang?” Dia segera turun dari tempat tidur, dan langsung mendaratkan pelukan ke tubuhku. Sesaat, kudengar isakannya. Aku langsung mendekap kepalanya yang tepat mencapai bahuku. Oh, anak lelakiku sudah setinggi ini. “I-Ibu ke mana saja?” Dia bertanya di antara tangisnya. Pertanyaan itu membuatku tergugu, hingga akhirnya aku ikut menangis. “Bu, jangan pergi lagi, ya? Devan rindu sama Ibu.”
Oh, apa yang sudah kuperbuat selama tiga tahun ini? Aku pergi tanpa pernah memikirkan perasaan anakku. “Iya, Nak, kita akan selalu sama-sama.”
“Sama Ayah juga,” sahutnya seraya melepas pelukan. Tidak, Nak. Tidak bisa. Aku mengusap-usap rambutnya. Ibu banyak salah sama ayahmu.
●●●
“Kamu di mana, Rin?” Suara di seberang terdengar geram. Setelah mengabaikan tiga deringan, akhirnya telepon ini kuangkat. Dan, sesuai dugaanku, peneleponku marah besar. “Kenapa pergi dari rumah, ha? Dasar tidak tahu diri!”
“Kamu sudah menceraikanku, Lex.” Aku mengingatkannya. “Tinggal daftar di pengadilan, ‘kan? Jadi, siapa yang mau menggugat? Kamu? Aku?”
“Tidak ada gugatan!” tukas Alex tajam. Aku mengatur napas karena kaget. “Aku masih menginginkanmu, Airin.” Suara Alex kini terdengar lebih bersahabat, aku mulai bernapas lega. “Ayo, pulanglah, nanti kukenalkan sama perempuan yang bersamaku di hotel beberapa hari lalu. Rencananya, dia akan kujadikan istri kedua.”
“Kamu gila, Lex!” Aku sontak berteriak. “Kamu mau menikah lagi? Kamu pikir aku mau dimadu?”
Alex di seberang tertawa. “Kupikir memang seperti itu, Perempuan Matre. Kamu tahu, ‘kan, apa yang akan terjadi kalau kamu bercerai denganku? Kemiskinan! Aku tidak akan membiarkanmu memiliki sepeser pun dari kekayaanku.”
Aku terpaku memandangi lantai tehel di kamar Devan yang sempit ini. “Kenapa diam?” Alex kembali berujar. “Oh, perlu waktu berpikir, ya? Baiklah, dua kali dua puluh empat jam untuk istri seksi sepertimu. Tapi, aku yakin kamu akan kembali ke pelukanku.”
Bersamaan dengan putusnya sambungan telepon, tubuhku langsung merosot di lantai. Aku duduk memeluk kaki dengan punggung yang bersandar pada sisi kanan tempat tidur. Ini dilematik. Kalau aku memilih bercerai dengan Alex, hidupku akan kembali susah. Tidak ada lagi arisan tas-tas bermerek, tidak ada lagi pesta sambil merumpi dengan istri-istri pengusaha, tidak ada lagi liburan ke luar negeri, tidak ada lagi mobil mewah, tidak ada lagi segala kemewahan. Aku akan hidup bersama Devan dengan uang dari hasil menyanyi. Oh, menyanyi di acara-acara pernikahan bukan pekerjaan bergaji besar. Lagi pula, apa masih ada yang menginginkan suaraku? Tetapi, kalau aku bertahan jadi istri Alex, apa aku kuat menghadapi perempuan lain di lingkaran kami? Apa aku bisa terus bertahan dari sifat Alex yang hanya menjadikanku pemuas nafsunya? Apa aku sanggup terus-menerus direndahkan oleh ibu mertuaku?
Apa aku mencintai Alex? Tidak. Selama ini aku hanya hidup dalam kepura-puraan.
Ponselku kembali berdering. Di layar yang berkedip-kedip tampak nama salah seorang teman arisanku. “Hoi, Jeng,” sambarnya, “kamu sibuk memasak, ya? Sejak kapan?” Terdengar suara tawa beruntun  di seberang. “Masa lupa, sih, sama pestaku? Tinggal kamu, nih, yang belum datang—” Aku langsung memutus sambungan. Aku bangkit dari duduk, dan langsung menuju dapur. Sekitar tiga jam lagi Mas Haris dan Devan pulang dari sekolah. Aku harus … aku harus memasak sesuatu.
●●●
“Padahal, aku berencana mengajakmu dan Devan makan di luar.” Mas Haris menarik kursi di hadapanku. “Ternyata kamu masak.” Dengan wajah semringah, dia meneliti piring-piring di meja.
Aku tersenyum tawar. “Kebetulan banyak bahan makanan di kulkas, Mas.”
“Oh, ya, Bibi mengisinya kemarin pagi.” Aku menurunkan bulu mata saat pandangan Mas Haris berserobok dengan pandanganku. “Mm, kamu baik-baik saja?” Aku langsung terbeliak mendengar pertanyaan itu. “Kamu kelihatan murung,” terangnya. “Apa … apa ada masalah?”
“Aku harus pergi dari sini,” kataku lirih. “Aku tidak pantas di sini.”
“Kamu minta izin berapa hari dengan suamimu?”
“Tidak, bukan tentang itu, tapi—”
“Bu,” Devan muncul sambil memakai baju kaus yang kemarin kubawakan. “Bibi sudah pulang, ya?”
“Bibi tidak datang, Dev,” sahut Mas Haris.
“Jadi,” Devan duduk di sampingku, “makanan ini dibeli di mana?”
Mas Haris menyahut lagi, “Semua ini buatan ibumu.”
“Wah!” Devan membuka piringnya yang telungkup. Aku langsung menyendokkan nasi ke piring itu. Sesaat kusadari bahwa dia memandangku intens. “Ibu cantik, lebih cantik dari yang difoto.” Aku refleks tersenyum. “Dan, ternyata Ibu sangat baik, padahal aku pernah menganggap Ibu tidak baik. Maaf, ya, Bu?” 
Aku serta-merta menyimpan piring di tanganku, langsung mencondongkan tubuh untuk memeluk Devan. Ibu mana yang tidak  terenyuh dengan perkataan polos seperti yang baru saja diucapkan Devan? “Ibu yang minta maaf, Nak.” Aku mengecup puncak kepalanya. “Ibu yang banyak salah sama kamu dan ayahmu.”
●●●
“Tidak ada orang yang luput dari kesalahan, Rin, jangan menyalahkan diri sendiri secara berlebihan.” Percakapan berlanjut sejak sepuluh menit lalu di kursi taman ini, antara aku dan Mas Haris. Berhadapan sepuluh menit dengan Mas Haris, aku tidak kuasa menutupi keadaan rumah tanggaku dengan Alex. Aku baru saja mengatakan tentang perselingkuhan lelaki itu, dan sekarang aku menangis sambil mengungkit-ungkit bahwa yang terjadi saat ini adalah balasan atas perbuatanku tiga tahun silam. “Tenanglah, kamu harus tenang. Ini bukan hukuman. Ini pelajaran untuk kita semua.” Kurasakan tangan mantan suamiku ini menepuk pelan pundakku. 
Aku mengusap wajah dengan tisu, serta-merta berusaha menghentikan tangisanku. Devan sedang tidur siang di kamarnya. Dia tidak boleh terbangun dan mendapatiku bersedih seperti ini. “Kupikir, uang adalah segalanya,” kataku lirih sambil menunduk. “Uang yang banyak, harta yang melimpah, barang-barang mewah, semuanya hanya menghadirkan kebahagiaan sesaat. Aku merasakannya, Mas. Hatiku rasanya kering, jiwaku kosong, semua karena tiga tahun ini aku jauh dari orang-orang yang menyayangiku dengan tulus.”
Kudengar Mas Haris mendesah ringan. “Aku senang kamu sekarang sudah memahaminya, Rin. Kita memang butuh uang, tapi tidak lantas kita harus mendewakan segala cara untuk mendapatkan kemewahan. Kuncinya adalah pandai bersyukur. Kalau kita pandai bersyukur dengan kesederhanaan yang kita miliki, kita tidak akan pernah berpikir untuk bergaya hidup mewah. Gaya hidup mewah yang tidak didukung kemampuan finansial, justru akan menyulitkan dan merisaukan diri sendiri.”
Mas Haris benar. Nasihat lelaki ini selalu benar, hanya aku saja yang seringkali keras kepala. Aku kini memberanikan diri memandangi Mas Haris. Dia balik memandangiku, dan tidak seperti saat di meja makan tadi, kami kini bertahan saling pandang. Tiga tahun tidak mendapat tatapan hangat dari lelaki ini, aku bisa merasakan hatiku menggelenyar. Ada getaran kecil yang kini teraktivasi. “Aku minta maaf, ya, Mas. Aku menyesal atas sikapku selama ini.” Jeda pendek kubuat. “Mungkin … mungkin aku tidak termaafkan.”
“Aku sudah lama memaafkanmu, Rin. Sekarang, kamu yang harus memaafkan diri sendiri, dan juga … memaafkan Alex. Hanya dengan memaafkan, kita bisa hidup dengan tenang.”
“Ya.” Aku tertawa ringan. “Terima kasih banyak, Mas. Aku sangat lega hari ini. Lega sekali.”
Lagi-lagi, Mas Haris menepuk pundakku. “Jadi, sekarang apa rencanamu, Rin?”
“Aku … aku akan kembali ke Jakarta minggu ini.” Kata-kataku keluar dengan lambat. Mas Haris menurunkan bulu mata, lalu mengangguk kecil. “Setelah urusan perceraianku selesai, aku akan pulang jadi ibu yang baik untuk Devan.”
“Anak kita pasti senang,” sahut Mas Haris dengan senyum lebar. Melihat senyum itu, tiba-tiba saja jantungku berdebar hebat. “Ayo kita masuk,” katanya lagi seraya bangkit dari kursi.
“Mas!” Aku meraih tangannya seraya ikut berdiri. “Bisakah kita memperbaiki semuanya?” Dia mengernyit tipis, membuatku semakin deg-degan. “Bisakah … bisakah kita kembali bersama?"
●●●
Sembilan tahun kemudian ….
“Bu, semangkanya banyak sekali. Satu, dua, tiga, ada empat buah.” Aku menutup panci sup yang tengah kubuat, lalu mendekati Disa di meja dapur. “Kalau Kak Devan makan ini semua,” katanya seraya memeluk salah satu semangka, “nanti perutnya gendut, dong, Bu.”
Aku tertawa mendengar kata-kata gadis cilikku yang berusia enam tahun ini. “Ini semua bukan untuk Kak Devan saja, Sayang, tapi untuk Disa, untuk Ayah, dan untuk Ibu juga. Ayo, sekarang kita potong salah satu, biar bisa dimasukkan ke kulkas.”
“Yeah, biar dingin!” serunya girang. Aku meraih talenan dan pisau di lemari, kemudian menyadari bahwa sup ayam buatanku sudah mendidih. Disa membantuku mematikan kompor, kemudian kembali di meja dapur. “Wah, merah!” Disa berseru lagi setelah semangka terbagi dua. Aku lalu membuat potongan seukuran telapak tangannya untuk dicicipi anak keduaku ini. “Manis, Bu,” komentarnya sambil terus melahap.
Aku tersenyum lebar melihatnya. Kini, sambil terus memotong-motong semangka, aku terkenang keputusan cerdas yang kubuat sembilan tahun lalu. Kalau aku tidak memutuskan bercerai dengan Alex, meninggalkan segala kemewahan semu yang kembali dia tawarkan, aku pasti masih berkubang dalam penderitaan. Di rumah BTN ini, aku akhirnya kembali. Cinta membawaku pulang. Dan, untunglah, cintaku ke Mas Haris tidak bertepuk sebelah tangan. Masa sembilan tahun ini kami lewati dengan penuh kebahagiaan. Anak-anak baik dan penurut, cinta, kebersamaan, kesederhanaan, semua begitu mendamaikan.  
“Bu, kenapa Kak Devan sekolahnya jauh?”
“Karena … di sini belum ada sekolah penerbangan, Sayang. Jadi, Kak Devan harus ke Surabaya.”
Devan ingin jadi pilot sejak akhir SMP. Mas Haris mendukung penuh keinginan anak sulung kami itu. Aku awalnya khawatir dengan biaya sekolah penerbangan yang sangat mahal, tetapi Mas Haris mengingatkan tentang tanah warisan orang tuanya seluas lima belas hektare di kampung. “Inilah saat yang tepat untuk menjual tanah itu, Rin,” kata Mas Haris setahun lalu. “Aku memang menyimpan tanah itu untuk kebutuhan penting seperti ini. Sebagai orang tua, anak adalah prioritas. Kita harus melakukan yang terbaik untuk anak-anak kita.” Dan, tidak ada keraguan lagi di hatiku. Di saat dulu aku memikirkan menjual tanah untuk membeli tas-tas bermerek, ternyata Mas Haris memikirkan hal yang lebih mulia. Masa depan anak kami.
Devan pun diterima di salah satu sekolah penerbangan terbaik di Indonesia yang terletak di Surabaya. Sejak awal, kami menyasar sekolah tersebut, sekolah yang biayanya tidak terlalu mahal, karena telah mendapatkan subsidi dari pemerintah. Untuk alasan itu, seleksinya sangat ketat, tetapi Devan berhasil menjadi salah satu yang terpilih.    
Dering nyaring ponselku dari arah kamar, menyadarkan lamunanku. Disa langsung bergegas mengambil benda canggih itu. “Ibu lagi di dapur, Yah.” Kudengar suara Disa di belakangku. “Sudah di taksi menuju ke sini? Oke, oke. Dadah, Ayah.”
“Kak Devan sama Ayah sudah di jalan menuju ke sini, Bu!” Disa berseru antusias. Ini adalah liburan pertama Devan setelah hampir setahun di Surabaya. Mas Haris sejam lalu berangkat ke bandara untuk menjemput, sedangkan aku dan Disa tetap di rumah untuk menyiapkan sambutan.
“Oke!” sorakku girang seraya menyusun cepat buah semangka di piring saji, lalu memasukkannya ke kulkas. “Kita tunggu di luar, yuk!” ajakku kepada Disa. Kami pun menuju pekarangan rumah, duduk di kursi taman. Di sini, kami menunggu sekitar dua puluh lima menit, hingga akhirnya pintu pagar terbuka.
Devan dan Mas Haris, dua lelaki yang sangat kucintai, berjalan bersisian ke arah kami. Setelah tidak ada lagi jarak, kami berempat saling bertukar pelukan. Oh, inilah kebahagiaan sejati yang tidak akan pernah kutukar dengan uang sebanyak apa pun.
  
*Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com dan nulisbuku.com

Sabtu, 31 Oktober 2015

[Cerpen] Disaksikan Sebatang Pohon

Karya Susi S. Idris

12 Juni 2015
Aku memacu motorku dengan kecepatan sedang melintasi jalan B. Jalan B, sebut saja demikian, sebab ini bukan jalan raya di perkotaan yang setiap ruasnya memiliki nama. Ini hanya jalan berkelok-kelok nyaris lima kilometer—yang tujuh tahun lalu dibuka pemerintah—untuk memberi akses tercepat kepada warga kabupaten menuju ibu kota provinsi. Aku melewatinya nyaris setiap akhir pekan sejak mulai kuliah—enam tahun lalu—di sebuah universitas ibu kota. Jarak desaku dari universitas itu kira-kira empat puluh kilometer, dan Jalan B (yang kiri dan kanannya masih berupa jurang, sesekali tebing, nyaris tidak ada pemukiman) berada di tengah-tengah—dua puluh kilometer dari rumahku.
Ada satu titik di pinggir jalan B ini yang setiap kali melihatnya, setiap kali melewatinya, dadaku serta-merta bergetar. Kira-kira seratus meter lagi motorku akan mencapai titik itu. Titik yang masih bisa kukenali meski lima tahun telah berlalu dari sebuah Peristiwa Besar yang menimpaku. Sebatang pohon mahoni adalah tanda. Di bawah pohon itulah, titik hidup dan matiku pernah beradu.
Aku ‘menyesal’ dan ‘berjanji’ secara bersamaan di bawah pohon itu, lima tahun lalu. Aku menyesal atas sikapku yang selama bertahun-tahun nyaris tidak pernah patuh terhadap peraturan berkendara. Aku menyesali semuanya, maka aku berjanji di antara luka dan rasa perih di sekujur tubuh bahwa aku tidak akan lagi melanggar peraturan lalu lintas, bahkan aku berjanji akan mewujudkan mimpi Ayah yang menginginkanku menjadi seorang polisi.
Tuhan Maha Mendengar. Dari mata yang setengah terpejam bisa kulihat seorang perempuan berambut panjang, bertopi cokelat, berwajah putih pucat, meraih tanganku. Setelah itu, tidak ada lagi yang kuingat. Aku terbangun dari koma tiga hari kemudian di sebuah rumah sakit provinsi. Aku selamat dari maut.
Kunaikkan kaca helm untuk melihat lebih jelas pohon mahoni yang masih berdiri kokoh di pinggir jalan beraspal ini (sebelah kanan dari arah rumahku). Laju motor kupelankan. Bisa kulihat pohon itu semakin menjulang dan rimbun. Di bawahnya, rumput-rumput tumbuh subur. Tubuhku pernah terbaring tidak berdaya di rumput itu. Dadaku bergetar, lagi-lagi bergetar penuh syukur. Semoga perempuan penyelamatku selalu diberi kebahagiaan, di mana pun dia berada. Sejujurnya, tidak ada yang mengetahui wajah perempuan itu selain aku. Dua perawat yang menurunkanku dari mobil ke ruang UGD mengatakan bahwa mereka tidak melihat jelas seseorang di depan kemudi. Wajahnya terhalang topi. Lagi pula, mobil itu langsung pergi.

22 Agustus 2010
Aku sudah siap di depan kemudi, tetapi Riza belum juga muncul. Kutekan klakson berkali-kali, dan sesaat kemudian kembaranku itu muncul bersama Bapak di teras. “Lama banget, sih!” keluhku, lalu menyuruhnya segera naik. Aku dan Riza kuliah di universitas dan program studi yang sama, kelas kami pun sama. Itulah sebabnya, setiap hari kami ke kampus bersama-sama. Saat baru saja hendak kulajukan motor—yang dibelikan Bapak dua tahun lalu saat kami akhirnya sudah cukup umur berkendara—Bapak menyela agar Riza di boncenganku memakai helm-nya. Riza tidak mau, dia hanya memeluk helm merah jambu itu. Aku pun mematikan mesin motor.
“Riz, pakai saja,” kataku membela Bapak. Ini kebiasaan buruk Riza yang entah kapan akan diubahnya. “Apa, sih, susahnya pakai helm?” lanjutku kesal.
“Rez,” meski aku lahir dua puluh menit lebih awal dari Riza, dia tidak mau memanggilku dengan embel-embel ‘kakak’, “rambutku sudah cantik begini, masa harus kurusak dengan helm?” Aku melihat rambut panjang Riza yang keriting bervolume—hasil kerja kerasnya selama satu malam dengan alat sosis dan beberapa krim rambut. Aku mendengus.
“Riza, helm itu untuk melindungi kepala, Nak,” kata Bapak mengingatkan. Lelaki bertubuh tinggi kurus dengan beberapa uban itu menambahkan, “Kamu lebih memilih keindahan rambut atau keamanan kepala? Keselamatan itu nomor satu.”
Riza bersungut-sungut sambil memakai helm dengan sangat tidak ikhlas. “Nah, rusak, ‘kan?” Dia melepasnya lagi, memasangnya lagi, melepasnya lagi, lalu bercermin di spion. “Jalan!” katanya padaku setelah kembali ke boncengan dengan helm di kepala.
***
Kuempaskan tubuhku yang lemas tanpa daya di kursi kayu panjang yang sandarannya menempel pada batang pohon ketapang. Pandanganku tertuju pada kelas A yang berjarak sekitar sepuluh meter di hadapanku. Kelas itu tampak dingin dengan pintu yang tertutup rapat. Lima menit lalu, drama pengusiran terjadi lagi di ambang pintu. Aku mendesah kecewa sambil memeluk tas ranselku. Di dalamnya ada tugas yang tidak akan dinilai Pak Robi, dan otomatis nilai akhirku di mata kuliah Kajian Prosa Fiksi akan berkurang, mungkin B, mungkin C, kuharap bukan D.
Pandanganku lalu tertuju pada Riza yang berjalan terseok-seok ke arahku. Kontur tanah menuju pohon ketapang ini memang agak membukit, dan dia memakai high heels setinggi telunjuk orang dewasa. Aku mendesah untuk gayanya hari ini. Dia tampak seperti SPG di toko sepatu. Kadang aku berpikir, aku dan Riza bukanlah anak kembar. Selain wajah kami yang identik, tidak ada lagi kesamaan di diri kami. Riza feminin, aku tidak. Riza susah diatur, aku lumayan penurut. Riza senang makan durian, aku mual bahkan hanya dengan mencium aroma buah berduri itu. Riza pembersih (terutama masalah kebersihan kamar), aku senang mengacaukan kamar sendiri. Riza pandai menari, aku tidak. Terlalu banyak perbedaan di antara kami.
“Uh, menyebalkan!” Riza duduk di sampingku, membuka tas untuk mencari kertas, lalu kipas-kipas. Aku memandang wajahnya dari samping. Kami benar-benar mirip: kulit putih, mata sipit, alis tebal, dan pipi tirus. “Ini semua gara-gara kamu, Rez,” ucapnya setelah beberapa saat.
“Bukannya gara-gara kamu?” protesku kesal. “Kamu, ‘kan, yang telat bangun, terus dandan seribu jam?”
 “Telat bangun hanya sepuluh menit, kok. Lagi pula, aku dandan tidak sampai seribu jam, kali, tidak usah hiperbolis.” Dia berhenti mengipas, lalu memandangku dengan mata yang sok dibesar-besarkan. “Kamu, ‘kan, yang bawa motor kayak jalannya bebek-bebek lagi rematik?”
Aku ikut-ikutan melotot. “Tadi jalanan macet, Riz, kita harus hati-hati.”
“Bilang saja takut!” Riza mencibir, lalu kembali kipas-kipas. “Kalau aku yang bawa, kita pasti tidak akan diusir kayak tadi. Uh, memalukan!”
“Kalau kamu yang bawa motor,” timpalku, “pasti sekarang kita lagi di UGD.”
“Uh!” Riza membuang muka. Dia pasti menyadari kebenaran kata-kataku, hanya saja gengsinya terlalu tinggi untuk mengakui. Dua kali dia memboncengku ke kampus, dua kali pula kami terjatuh di jalan. Untung saja keduanya hanya menyisakan memar-memar di tangan dan kaki, tapi aku terlanjur trauma dibonceng kembaranku ini. Dia selalu melaju dengan kecepatan tinggi. Dibonceng Riza, tubuhku seolah sedang terbang, dan itu lebih mengerikan dari film horor mana pun di muka bumi.
“Pak Robi juga, sih,” Riza berkata lagi, “telat sepuluh menit saja sudah disuruh ‘tutup pintu dari luar’.” Empat kata terakhirnya itu meniru gaya bicara Pak Robi beberapa menit lalu. “Kayak tidak tahu saja kalau jalanan di kota ini selalu macet!”
“Macet bukan alasan, Riz,” sahutku mengingatkan. “Memang benar, sih, kata-kata Pak Robi tadi. Kalau dia dan teman-teman lain bisa sampai tepat waktu, kenapa kita tidak? Nah, jawabannya, karena kamu telat bangun dan kebanyakan gaya. Lagi pula, kita ini calon guru, memang harus disiplin.”
“Ah, terserah, deh!” sahut Riza cuek. Sesaat kemudian, wajahnya semringah, “Daripada kayak orang bego di sini, mending kita ke kantin, yuk.” Dia menarik tanganku, dan aku menurut dengan mudahnya.

12 Juni 2015
Ada sekitar dua ratus siswa kelas dua belas berkumpul di aula ini, aula SMA Harapan Bangsa. SMA ini merupakan salah satu sekolah swasta yang tingkat kenakalan para siswanya sangat memprihatinkan. Hari ini, seminggu sebelum pengumuman kelulusan, dalam rangka menumbuhkan kesadaran berlalu lintas kepada anak-anak muda, SMA Harapan Bangsa bekerja sama dengan kepolisian daerah, mengadakan penyuluhan terkait ketertiban berlalu lintas. Ada tiga pemateri yang akan menyuluh, salah satunya … aku.   
Sepuluh menit menuju acara. Aku sudah bersiap di atas panggung dengan seragam kepolisianku. Aula seluas setengah lapangan bola kaki ini terdengar riuh rendah. Para siswa ada yang telah duduk tenang di kursi-kursi yang berjajar rapi di hadapanku, ada pula yang masih mondar-mandir, berceloteh dengan suara nyaring, saling lempar kertas, dan ada juga yang asyik di dekat pintu masuk—melihat-lihat sekitar dua puluh helm dengan SNI (Standar Nasional Indonesia) yang akan dibagikan gratis kepada para siswa yang aktif dalam diskusi nanti. Selain para siswa, telah hadir pula beberapa guru dan staf. Semuanya berpakaian bebas rapi, karena sekarang Minggu. Minggu yang cerah. 
Pandanganku lalu terarah ke sebuah meja besar yang berada di samping kanan tembok aula. Meja itu digunakan sebagai tempat menyimpan kotak-kotak makanan. Seorang perempuan berkemeja biru dengan rok hitam selutut, masuk dari pintu samping, membawa sebuah nampan bundar berpenutup logam ke meja itu. Mataku langsung membulat sempurna diikuti jantung yang berdetak kencang sedetik. Perempuan itu sangat familier di ingatanku. Rambut panjang menyentuh siku, mata sipit, kulit putih, dia … dia perempuan yang menolongku lima tahun lalu. Aku langsung bangkit dari kursi, dan berjalan cepat untuk menghampirinya. Tetapi, pembawa acara yang mulai memanggil para siswa untuk segera mengambil tempat duduk, membuat langkahku terhalang kerumunan. Saat tiba di meja konsumsi ini, perempuan itu telah pergi. Aku langsung menahan seorang siswi, menyebutkan ciri-ciri perempuan yang tengah kucari. 
“Oh,  guru bahasa Indonesia,” sahutnya dengan wajah serius.
“Namanya siapa?” tanyaku tak kalah serius.
Anak di hadapanku ini memandangku dengan tatapan menyelidik, kemudian sudut-sudut bibirnya tertarik. “Cie, cie, Om polisi suka, ya, sama bu guru?”
Aku mengernyit. Alih-alih menjawab pertanyaanku, anak ini langsung berbalik pergi. Aku mengernyit lagi, kemudian menengok ke kiri dan kanan, hingga akhirnya kuseret langkah gontaiku kembali ke kursi.   

23 Agustus 2010
Bapak adalah seorang tukang batu yang lima tahun lalu harus mengurusi kedua anak kembarnya seorang diri. Ibu meninggal karena penyakit asma yang sudah lama dideritanya. Sudah sering Bapak meninggalkan aku dan Riza berdua di rumah untuk urusan pekerjaan. Tadi pagi Bapak pamit untuk mengerjakan sebuah mal di pusat kota. Untuk menghemat biaya transportasi, Bapak hanya akan pulang dua kali seminggu.
“Rez, besok aku pakai motor, ya?” Riza tiba-tiba muncul di belakang kursiku, menepuk pundakku. Aku menutup diktat yang tengah kubaca.
“Untuk apa?” tanyaku penasaran.
“Aku sama anak-anak Full Dance mau ke air terjun yang di Desa Rumba, kamu tahu, ‘kan? Kalau kamu mau ikut, boleh banget, loh. Anak-anak Full Dance seru-seru semua, kok.”
Aku tahu air terjun itu, lokasinya sekitar lima puluh kilometer dari sini. Aku juga tahu anak-anak Full Dance, mereka adalah enam orang cewek-cewek kampus yang suka pop dance, termasuk Riza. “Kita ada ujian tengah semester hari Senin, Riz. Daripada kamu main-main tidak jelas, lebih baik belajar.”
Riza tertawa. “Itu bukan main-main, Rez, tapi refreshing di hari Minggu. Ujian, mah, gampang!” 
Aku mendengus. “Memangnya kamu sudah minta izin sama Bapak?”
“Itu juga gampang!” Riza mengibas rambut panjangnya yang sekarang sudah diluruskan. “Tinggal SMS, beres, deh!”
***
Aku menggeleng putus asa melihat kelakuan Riza di halaman belakang rumah kami. “Kamu apakan motor kita, Riz?” Motor di hadapanku telah kehilangan dua spionnya.
“Cantik, ‘kan?” Riza malah merentangkan kedua tangan dengan senyum mengembang.
Aku terdiam, bingung mau berkata apa lagi. Aku mengenal Riza, kemampuan akademisnya berkategori baik sejak sekolah dasar. Dia cukup mudah menyerap materi yang diberikan guru. Namun, untuk menyerap nasihat-nasihat Bapak tentang keselamatan berkendara, kemampuannya sangat buruk.
“Spion ibarat mata belakang kita saat berkendara, Riz.” Aku membungkuk meraih dua spion yang tergeletak di tanah. “Kaca spion ini bisa mencegah tabrakan dengan pengendara lain.” Aku mendesah. “Memangnya jalan raya punya nenek moyangmu?”
“Jalan menuju air terjun itu sepi, kok, Rez. Tidak banyak orang, tidak akan ada polisi. Aman, pokoknya.”
“Aku tidak mengerti jalan pikiranmu, Riz.” Aku memandangnya dengan ekspresi dingin. “Aman itu kalau kita naik motor pakai helm, spion lengkap, kondisi motor prima, jalannya hati-hati, bawa SIM, STNK.” Aku mulai emosi. “Nih,” kataku seraya mengentakkan kedua spion di jok motor, “pasang kembali atau kutelepon Bapak.” Aku pun berbalik pergi.
“Sewot banget, sih!” teriaknya saat tubuhku mencapai meja makan.
Aku berbalik memandangnya melalui pintu dapur yang terbuka lebar. “Itu karena aku sayang sama kamu, Riz. Itu karena aku kasihan sama Bapak yang kerja banting tulang untuk kita. Kalau terjadi apa-apa sama kamu, Bapak juga yang susah. Tolong, tolong kamu mengerti keadaan kita.”
Dan, hening. Riza tidak lagi membalasku. Kuharap, dia memang sudah menyadari kekeliruannya selama ini.

12 Juni 2015
       “Almarhum Ayah saya adalah seorang polisi. Beliau sangat menginginkan saya—sebagai anak lelaki satu-satunya di keluarga—mengikuti jejaknya. Hingga beliau wafat, saya tidak bisa mewujudkan keinginan itu. Jujur saja, saya ingin menjadi seorang banker, karena itu saya kuliah di jurusan ekonomi.” Aku cukup senang melihat para siswa di hadapanku menyimak. Sejak awal sudah kukatakan bahwa aku tidak akan memberi banyak materi. Aku akan berbagi pengalaman.
“Rumah saya berada di Desa Rumba. Kalian pasti tahu, desa itu terkenal dengan wisata air terjunnya.” Respons kecil kudapat dari hadirin, tidak tertangkap jelas, maka kulanjutkan kata-kataku. “Saat kuliah, saya indekos di dekat kampus, tapi setiap Sabtu saya menyempatkan pulang kampung. Ke mana-mana saya naik motor, begitu juga saat pulang kampung.”
Aku menelan ludah. Ini saatnya berkata jujur tentang kebiasaan burukku di masa lalu. “Dulu, saya bukan pengendara motor yang baik. Saya jarang memakai helm, sering mengebut, kadang-kadang saya juga menerobos lampu merah. Itu bukan hal yang baik, Adik-Adik, jadi jangan ditiru. Jangan ditiru kalau kalian tidak mau menyesal!” Aku sedikit berteriak di depan mikrofon. “Saya sudah mengalaminya, mengalami penyesalan luar biasa. Kalian tahu, saya pernah kecelakaan motor yang membuat saya koma beberapa hari. Bangun dari koma, saya masih harus menjalani serangkaian pengobatan yang menyakitkan dan melelahkan, membuat saya pun harus cuti kuliah selama dua semester. Kerugian itu masih diperparah dengan utang yang harus dipikul keluarga saya demi membayar biaya pengobatan yang jumlahnya menyentuh angka ratusan juta.”
Jeda pendek kubuat untuk menghela napas. Di saat inilah, mataku kembali menangkap sosok penyelamatku saat kecelakaan dulu. Perempuan itu duduk di kursi deretan ketiga dari belakang. Dadaku tiba-tiba saja disesaki kebahagiaan. Lebih tepatnya … lega, karena setelah sekian tahun akhirnya sebentar lagi aku bisa mengucapkan terima kasih padanya. “Kecelakaan itu,” lanjutku, “kecelakaan motor yang menimpa saya saat itu murni kesalahan pribadi. Saat itu … saya tengah melaju kencang. Dari arah belakang, sebuah truk pengangkut kayu mendahului motor saya. Tiba-tiba saja saya berpikir untuk mengejar mobil itu. Bayangkan, betapa bodohnya pikiran dan tindakan saya saat itu. Itu bukan tindakan terpuji, Adik-Adik, itu tindakan cari mati. Saya mengejar mobil itu dan terus mengejar. Pada akhirnya, motor saya tersenggol keras oleh badan truk. Saya terlempar, terlempar, dan terlempar, hingga tubuh saya menabrak sebuah pohon mahoni.”
Aku melihat ke arah perempuan penyelamatku. Dia menunduk. Aku berharap perempuan itu masih mengenali wajahku. “Di bawah pohon itu,” lanjutku, “saya masih sadar, tetapi luar biasa kesakitan. Tempat itu sunyi, dan saya rasa tidak akan diberi napas lagi oleh Tuhan. Di saat itulah saya menyesali semuanya. Saya berjanji, apabila masih diberi kesempatan hidup, saya akan menjadi pengendara yang baik, yang patuh terhadap peraturan lalu lintas. Saya juga berjanji akan menjadi seorang polisi untuk mewujudkan mimpi mendiang Ayah. Lebih dari itu, menjadi polisi lalu lintas bisa membuat saya turut membantu pengguna jalan menikmati perjalanannya agar aman dan selamat sampai tujuan. Bersyukur, sekarang saya bisa mewujudkan janji itu, dan saya tidak menyesal meninggalkan kuliah di ekonomi.”
“Jadi, kalian pasti tahu akhirnya.” Bibirku melengkung tipis. “Ya, ada seseorang yang dikirimkan Tuhan untuk membantu. Orang itu datang dan langsung membawa saya ke rumah sakit. Saya sangat bersyukur atas pertolongannya. Tapi, sampai sekarang kami belum pernah bertemu lagi.”
***
“Oh, ya?” kataku kepada lelaki bernama Bagas yang baru saja mengaku sebagai orang yang kutolong lima tahun lalu. Katanya, dia sangat mengenali wajahku. Sebaliknya, aku tidak mengingat wajahnya. “Kamu yakin?” tanyaku setelah menghabiskan air mineral kemasan di tanganku.
Dia mulai terlihat tidak yakin. “Kamu benar-benar yakin tidak mengenaliku?” Dia balik bertanya, tampak agak kecewa.
“Sebenarnya, aku punya kembaran,” kataku dengan ekspresi murung. “Wajah kami identik.”
“Oh, ya?” Sekarang, Bagas-lah yang tampak kaget. “Apa mungkin—?”
“Dia sudah meninggal,” timpalku. “Dia meninggal satu hari setelah kecelakaan yang menimpamu.”

24 Agustus 2010
Dering ponsel di kantung apron yang tengah kukenakan membuatku menghentikan sejenak kegiatan mengiris-iris kacang panjang. Riza yang menelepon. Aku semringah. Ternyata, dia mengingat pesanku untuk langsung mengabari saat telah tiba di lokasi air terjun.
“Iya, saya Reza, saudara kembar Riza.” Kenapa orang yang menelepon justru tidak yakin dengan nama orang yang dia telepon? “Maaf, dengan siapa? Mm, Riza mana, ya?”
“I-ini temannya Riza di Full Dance.” Suara perempuan di seberang terdengar ragu-ragu. “Riza … Riza kecelakaan, motornya tabrakan dengan mobil. Sekarang … dia baru saja masuk UGD di puskesmas Desa Rumba. Tidak ada rumah sakit di sini.”
“Kenapa bisa? Apa yang terjadi?” Suaraku bergetar hebat. Kurasakan mataku basah.
“Riza melaju kencang,” sahut perempuan di seberang. “Dari arah berlawanan, sebuah mobil juga melaju kencang. Dan, tabrakan pun terjadi. Semua terjadi begitu cepat.”
Aku mendengar penjelasan demi penjelasan perempuan di seberang dengan tubuh lemas, dada sesak, dan jantung yang sesekali berdesir takut. Setelah menutup telepon, aku langsung melepas apron, meraih dompet, memakai topi cokelat, mengunci pintu rumah, dan langsung kularikan tubuh mencari ojek. Aku harus segera sampai di tempat rental mobil.
Dan, di sinilah aku setelah tiga puluh menit yang alot, duduk di depan kemudi sebuah mobil sedan putih tulang. Mobil kupacu dengan kecepatan sedang. Mengendarai mobil bukan hal sulit untukku. Setahun lalu aku ikut kursus (dan telah lulus ujian mengemudi) dengan alasan ingin menambah pengetahuan berkendara. Nyatanya, hari ini, keinginan iseng itu memiliki manfaat.      
Aku terus memacu mobilku. Saat ini, rasanya, sudah nyaris setengah perjalanan. Di benakku hanya ada keinginan untuk segera membawa Riza ke rumah sakit provinsi. Tiba-tiba, dari jarak sekitar sepuluh meter, kulihat sebuah motor tergeletak di pinggir jalan. Mula-mula adalah motor, lalu … tubuh seseorang.
Seketika saja serangan bimbang melandaku. Aku bimbang. Sangat bimbang.

12 Juni 2015
“Aku turut berduka cita,” kataku seraya menghentikan langkah di bawah sebuah pohon. Reza turut berhenti di sisiku. Aula telah beberapa puluh meter di belakang kami. “Apa saudara kembarmu meninggal … karena terlambat ditangani? Maksudku, apa karena kamu mengantarku lebih dulu ke rumah sakit provinsi, jadi saudaramu—”
“Tidak,” selanya lirih. “Tidak seperti itu.” Dia menunduk sempurna, kutahu ada kesedihan yang hendak dia sembunyikan. “Kurasa, lebih tepatnya adalah … karena orang-orang selalu terlambat menyadari akibat-akibat fatal dari kebiasaan buruk yang melekat di dirinya masing-masing, dalam hal apa pun, termasuk dalam hal berkendara.”
“Ya,” sahutku membenarkan ucapannya. “Aku tidak pernah berpikir panjang saat dulu kebut-kebutan di jalan. Aku terlalu sok saat itu. Sok hebat, sok bisa melaju paling kencang, padahal jalanan bukan untuk adu kecepatan.” Aku tertawa sinis, mengejek diri sendiri.
Reza mengangkat wajahnya. Kabut kehilangan tampak jelas di mata sipitnya. “Riza sudah kritis saat dibawa ke puskesmas. Saat aku tiba pun, dokter tidak menyarankan Riza dibawa ke rumah sakit lain. Kondisinya masih lemah untuk sebuah perjalanan darat puluhan kilometer.”
Sesaat hening. Saat kuangkat sedikit kepalaku, baru kusadari bahwa pohon tempat kami kini bernaung adalah juga mahoni, pohon yang sama dengan titik tempat Peristiwa Besar-ku terjadi lima tahun lalu.
“Aku minta maaf,” katanya seraya memandangku sekilas.
Aku seketika merasa tidak enak. “Minta maaf untuk apa? Tidak perlu. Justru seharusnya akulah yang minta maaf.”
Seolah tidak mendengar kata-kataku, Reza menambahkan, “Aku minta maaf karena waktu itu langsung meninggalkanmu di rumah sakit. Aku juga minta maaf karena tadi tidak langsung mengiyakan bahwa aku pernah menolongmu—”
“Oh, kamu sangat baik,” tukasku dengan penuh kejujuran. “Apa yang bisa kulakukan untuk membalas semua kebaikanmu, Rez?”
Reza memandang beberapa lembar daun mahoni yang terjatuh, lalu berkata, “Jadilah polisi lalu lintas yang bermartabat. Bekerjalah semaksimal mungkin untuk menghindari semakin banyak korban di jalanan. Aku yakin itu mudah untukmu, karena kamu bekerja dari hati.”
Disaksikan sebatang pohon, lagi-lagi adalah mahoni, aku berjanji pada Reza, perempuan penyelamatku lima tahun lalu, bahwa aku akan melakukan keinginannya itu. Melakukannya sepenuh hati.  

*Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Honda Motor dan Nulisbuku.com

Kamis, 02 Juli 2015

Terus Bergegas, GagasMedia!


Memeriahkan ulang tahun GagasMedia ke-12, penerbit ini kembali berbagi banyak kebahagiaan kepada pembaca setianya. Salah satunya adalah dengan mengadakan event "Kado untuk Blogger". Bagi yang ingin ikutan, silakan mengecek syarat dan ketentuannya di poster berikut:


Nah, tentu saja saya (juga) tertarik untuk berpartisipasi. Oke, ayo simak jawaban-jawaban saya berikut ini:

1. Sebutkan 12 judul buku yang paling berkesan setelah kamu membacanya!

Agak sulit memilih hanya 12 judul, mengingat banyak sekali buku (lokal maupun terjemahan) yang sangat berkesan bagi saya, baik novel, buku kumpulan cerpen, maupun buku kumpulan puisi. Baiklah, saya akan memilih 6 buku lokal dan 6 buku terjemahan yang PALING BERKESAN bagi saya, sebagai berikut:
1. Interlude karya Windry Ramadhina
2. Kei: Kutemukan Cinta di Tengah Perang karya Erni Aladjai
3. People Like Us karya Yoshepine Monica
4. Sunshine Becomes You karya Ilana Tan
5. Sagra (Kumpulan Cerpen) karya Oka Rusmini
6. Gugusan Mata Ibu (Kumpulan Puisi) karya Raudal Tanjung Banua
7. Ways to Live Forever (Setelah Aku Pergi) karya Sally Nicholls.
8. Looking for Alaska (Mencari Alaska) karya John Green
9. The Fault in Our Stars karya John Green
10. The First Phone Call from Heaven karya Mitch Albom
11. Catalyst (Katalis) karya Laurie Halse Anderson
12. Breakfast at Tiffany’s karya Truman Capote

Koleksi Pribadi

2. Buku apa yang pernah membuat kamu menangis? Kenapa?

Saya adalah pembaca yang menyukai buku (khususnya novel) yang menghadirkan kisah menyedihkan dari salah satu atau beberapa tokohnya, namun dari kisah sedih tersebut saya bisa memetik banyak pesan moral yang terkandung di dalamnya. Satu buku yang telah berhasil membuat saya menangis karena dua unsur tersebut adalah: Looking for Alaska (Mencari Alaska) karya John Green. Saya benar-benar menangis membaca buku tersebut. Ya, menangis! Bukan berkaca-kaca atau sekadar merasakan hati yang menghangat. Itu terjadi saat Alaska “pergi”. Alaska yang selalu membuat ulah, Alaska yang penuh masalah, ketika “pergi” justru membuat semua teman-temannya (termasuk saya) sangat kehilangan. Mengapa? Karena Alaska punya "sesuatu". Yang paling mengharukan adalah di bagian ketika Pudge dan Kolonel hendak menuju aula olahraga, lantas mencari-cari keberadaan Alaska (padahal "kepergian" Alaska-lah yang menyebabkan mereka dikumpulkan di ruangan tersebut). Sangat menyentuh.   

3. Apa quote dari buku yang kamu ingat dan menginspirasi?

Quote dari novel Supernova: Partikel karya Dee. Ketika membacanya (pertama kali) sukses membuat saya terperangah, lantas membatin, Ya, Dee benar sekali. Alhasil, quote tersebut terus melekat di benak saya hingga kini. Ini dia quote yang saya maksud: “Kalau lawan bicaramu mendengar dengan sepenuh hati, beban pikiranmu menjadi ringan. Kalau kamu malah tambah ruwet, meski yang mendengarkanmu tadi seolah serius mendengar, berarti dia tidak benar-benar hadir untukmu."

Quote tersebut menginspirasi saya untuk selalu menjadi pendengar yang baik: bahwa setiap orang yang mencurahkan perasaannya sangat membutuhkan "telinga" yang benar-benar mendengar. Jangan sampai mereka bertambah pusing atau malah merasa was-was setelah berbagi dengan kita. Kita harus membuat mereka mendapatkan solusi atau setidaknya merasa lega setelah bercerita.

4. Siapakah tokoh dalam buku yang ingin kamu pacari? Hayo, berikan alasan kenapa kamu cocok menjadi pasangannya.

Brins Van Hoye di novel Bersetia-nya Benny Arnas. Saya cocok sama dia karena … *uhuk* di novel digambarkan sosok cewek idaman Brins. Nah, cewek kriteria Brins itu “saya” banget. Sederhana, pendiam, tidak cemburuan *abaikan*. Lagi pula, Brins itu cowok idaman saya juga. Alim, setia, romantis. Mudah-mudahan bisa jadi Couple of The Year. Hahaha #DasarJomblo.  

5. Ceritakan ending novel yang berkesan dan tak kamu lupakan!

Ending novel Sunshine Becomes You: Alex membuka rekaman video (camcorder) dari Mia Clark. Di bagian itu dia akhirnya mendengar apa yang selama ini ingin dia dengar dari mulut Mia. Sayangnya, mereka tidak lagi bisa bersatu.

6. Buku pertama GagasMedia yang kamu baca dan kenapa kamu memilih itu?

Brownies-nya Fira Basuki. Saya punya cetakan ketiga (Desember 2004), tapi saya membelinya di awal-awal kuliah, sekitar enam tahun silam.

Koleksi Pribadi

Alasan membeli adalah nama besar Fira Basuki dan gambar cewek di sampul depan yang cantik jelita. Sampai sekarang masih bertanya-tanya, cewek itu siapa, ya? *BelumBerencanaGoogling* ^^

7. Dari sekian banyak buku yang kamu punya, apa judul yang menurutmu menarik? Kenapa?

Sunshine Becomes You, Interlude. Menarik karena (1) Saat diucapkan memiliki nilai estetis tersendiri, seolah-olah seluruh alat artikulasi ikut menari balet (bersama Mia) sambil diiringi petikan gitar (Kai), (2) “Misterius” karena judul-judul tersebut tidak "menjelaskan" terlalu banyak tentang isi cerita, namun memiliki daya pikat tersendiri dari makna harfiahnya. 

8. Sekarang lihat rak bukumu, cover buku apa yang kamu suka? Kenapa?

Uwaaa, banyak yang saya suka. Saya pilih tiga, ya. (1) Perahu Kertas, (2) Interlude, dan (3) Yang Menunggu dengan Payung (Kumpulan Cerpen).


Saya menyukai ketiganya karena terlihat sangat artistik. Saya menyukai sampul yang artistik dan agak abstrak seperti ketiganya, karena ketika saya berhenti membaca dan melihat sampulnya, mata saya termanjakan, lalu imajinasi saya bisa mengembara (menghubungkan jalan cerita dengan sampul).  

9. Tema cerita apa yang kamu sukai? Kenapa?

Saya menyukai tema-tema yang mengangkat kehidupan remaja (Young Adult) dan disajikan secara realistis, misalnya mengangkat masalah yang terjadi dalam lingkungan keluarga, masalah bullying di sekolah, masalah krisis kepercayaan diri yang membuat (tokoh) depresi, atau masalah persahabatan yang kompleks.

10. Siapa penulis yang ingin kamu temui? Kalau sudah bertemu, kamu mau apa?

Saya ingin bertemu J.K Rowling dan Sapardi Djoko Damono. Kepada J. K. Rowling, selain ingin minta foto dan tanda tangan, saya mau meminta agar diizinkan mengikuti aktivitas menulis Rowling selama sehari. Saya ingin tahu, di bagian mana dalam sudut rumahnya dia menulis, bagaimana ekspresinya ketika mengetikkan huruf-huruf, juga apa atau siapa saja yang menemaninya menulis. Saya ingin merekamnya dengan mata kepala saya sendiri, juga dengan mata kamera saya, untuk kelak saya bagikan ke semua orang.

Kepada Sapardi Djoko Damono, saya ingin bercakap-cakap dengan beliau, mau mendengar beliau bercerita tentang hujan, ketabahan, perjalanan hidup beliau sejak kecil, dan tentu saja tentang kepenulisan. Saya yakin, semua itu akan sangat menginspirasi.

11. Lebih suka baca e-book atau buku cetak?

Buku cetak. Entah mengapa, saya kurang bisa menghayati isi buku maupun jalan cerita sebuah buku ketika membaca e-book. Saya juga senang memegang sampul buku, mengamatinya, menggerakkan jari ke tiap-tiap gambar atau huruf-huruf di sampulnya ketika jeda membaca. Menurut saya, itu magis! ^^

12. Sebutkan 12 kata untuk GagasMedia menurutmu!

GagasMedia menurut saya: Inovatif. Total. Kreatif. Berkarakter. Artistik. Kompetitif. Variatif. Pionir. Fleksibel. Mencerdaskan. Inspiratif. Selamanya.    

Yeah, akhirnya terjawab sudah 12 pertanyaan dari GagasMedia. ^^ Wismilak, ya!

Terakhir, selamat ulang tahun ke-12 GagasMedia. Semoga semakin mencerdaskan bangsa dengan selalu menghadirkan buku-buku berkualitas di tanah air. Good Luck!

Rabu, 22 April 2015

[RESENSI NOVEL KEI]

Tragedi Cinta Berlatar Sejarah


Judul Buku     : Kei: Kutemukan Cinta di Tengah Perang
Pengarang      : Erni Aladjai
Penerbit          : GagasMedia
Tahun Terbit    : Cetakan pertama, 2013
Tebal              : x + 254 halaman
ISBN             : 978-979-780-649-1

Sejarah Indonesia telah mencatat bahwa sejak 1999-2001, terjadi perang saudara di Maluku. Dalam kurun waktu tiga tahun tersebut, ribuan orang tewas, ribuan pula yang cacat fisik, belasan ribu perempuan menjadi janda, belasan ribu orang menjadi pengangguran, ratusan ribu penduduk terpaksa mengungsi, dan adapula yang dinyatakan hilang (hlm. 1). Adakah yang telah melupakan sejarah kelam tersebut? Atau adakah yang tidak tahu bahwa peristiwa menyedihkan tersebut pernah terjadi di Maluku, salah satu provinsi di Indonesia?
Kei mengisahkan tentang perang saudara yang terjadi di Ambon, ibu kota provinsi Maluku, yang kemudian menyebar ke pulau-pulau lain di Maluku. Salah satunya ke Pulau Kei, pulau yang selama ini dikenal damai, pulau yang masyarakatnya hidup penuh toleransi di tengah keragaman agama dan suku, pulau yang masyarakatnya menjunjung tinggi adat dan ajaran leluhur. Namun, kuatnya sentimen agama sanggup membuat Pulau Kei bergolak. Desa-desa di Kei pun saling serang. 
Maret 1999, saat Namira Evav, gadis asal Elaar, beserta sahabatnya, Mery, yang berasal dari Evu, baru saja selesai menarikan Tarian Sosoi Swar Man-Vuun dalam Pesta Adat Tutup Sasi, tiba-tiba seorang pemuda datang mengabarkan bahwa Elaar akan diserang. Semua orang yang menghadiri pesta adat tersebut merasa ketakutan. Tak terkecuali Namira dan Mery, dua sahabat berbeda agama yang saling menyayangi.
Meskipun hari itu serangan tidak terjadi, namun masih di bulan Maret 1999, Namira melihat orang-orang tak dikenal membawa parang-parang panjang, menggenggam batu, dan memanggul senapan. Penyerangan terhadap Elaar oleh dua desa tetangga terjadi di depan mata Namira. Saat itulah Namira ditarik seseorang masuk ke hutan, dan dimulailah kehidupan Namira sebagai seorang pengungsi yang terus berpindah-pindah.
Di tempat lain, Sala, pemuda Desa Watran yang baru pulang mengantar pisau pesanan ibu-ibu di Mun Kahar, sebuah pulau kecil di Kei Besar, begitu terpukul dengan kenyataan yang dilihatnya. Ibunya, orang tua yang seorang diri membesarkannya, tertelungkup bersimbah darah di pekarangan rumahnya. Perempuan itu telah meninggal, membuat Sala benar-benar putus asa.
Namun, Sala yang besar dengan petuah-petuah ibunya tentang hukum adat Kei, tidak setuju ketika orang-orang di desanya merundingkan rencana serangan balasan ke desa-desa yang telah menyerang mereka. Namun, niat orang-orang yang hatinya telah diliputi sakit hati dan dendam, tak bisa lagi ditentang. Akhirnya, Sala pergi dari Watran. Perjalanannya pun sampai di Langgur.
Di Langgur, Namira dan Sala bertemu di tempat pengungsian. Bermula ketika Sala mencabut pecahan botol di telapak kaki Namira, dilanjutkan dengan perhatian-perhatian Sala kepada gadis itu, hingga percakapan-percakapan keduanya di bawah pohon ketapang; Namira senang mendengarkan Sala bercerita.
Hubungan keduanya pun terus terjalin di tengah perang yang tak kunjung usai. Keduanya saling mencintai. Sala bahkan ingin segera menikahi Namira. Namun, Langgur yang kemudian ikut rusuh, memaksa Namira mengungsi ke Evu, sementara Sala tetap di Langgur. Saat Evu nyaris kacau, Namira ditarik seorang ibu masuk ke kapal barang KM Cinta Semusim yang membawa Namira ke Makassar, ke kehidupannya yang baru.
Sala yang gagal menemukan Namira di Evu, akhirnya memilih ikut temannya, Edo, ke Jakarta. Kehidupan yang diimpikan Sala tidak terjadi di kota tersebut. Sala malah menjadi anak buah Bos Yo, seorang pemilik usaha debt collector dan penyewaan jasa pembunuh bayaran, yang memaksa Sala melakukan tindak kejahatan yang paling dijauhinya selama ini.
Novel unggulan “Sayembara Menulis Novel DKJ 2012” ini sangat menarik dibaca, karena adanya kompleksitas alur yang dihadirkan pengarang. Kisah cinta Namira dan Sala yang berlatar sejarah (perang di Pulau Kei), membuat dramatisasi novel ini begitu terasa, terutama tentang perubahan hidup Sala yang kontras setelah berpisah dengan Namira. Banyak tragedi (peristiwa menyedihkan) yang dihadirkan pengarang dalam novel ini. Sayangnya, dengan gaya penulisan Erni yang cepat, penggambaran perasaan tokoh-tokohnya dalam beberapa peristiwa menjadi kurang tergali. Saat Sala atau Namira sedih, penggambaran itu hanya ditulis satu paragraf atau beberapa kalimat, setelah itu beralih ke peristiwa lain. Misalnya saat Erni menggambarkan kesedihan Sala yang tidak menemukan Namira di Evu dengan kalimat “Sala lemas” dan “Dadanya perih” (hlm. 155). Penggambaran tersebut kurang mampu memancing emosi pembaca.
Kekurangan lain dalam novel ini, yaitu adanya inkonsistensi mengenai lama Namira berada di Makassar. Jika merunut tanggal Namira berangkat ke Makassar, yaitu Mei 1999 (hlm. 148), lalu Namira berada di pelabuhan Kota Makassar untuk kembali ke Kei pada November 2001 (hlm. 2), berarti Namira berada di Makassar selama tiga puluh satu bulan atau dua setengah tahun. Hal ini diperkuat dengan usia Namira yang saat perang berusia 18 tahun (hlm. 138) dan saat pulang kembali ke Kei berusia 20 tahun (hlm. 3). Namun, di halaman 230 ditulis bahwa Namira tinggal selama setahun di Makassar, dan pada halaman 234 ditulis bahwa Namira meninggalkan rumahnya di Elaar selama setahun lebih.
Selain kekurangan tersebut, novel ini juga tidak luput dari kesalahan penulisan (masalah tipografi) dan kesalahan penggunaan EYD, misalnya: menengaknya (hlm. 16), menjengguk (hlm. 19), waswas (hlm. 18), mengali (hlm. 31), Kei besar (hlm. 28), tersium (114), pelanggara (hlm. 233), merekaya (hlm. 233), dan beberapa lainnya.
Suasana perang dalam novel ini begitu terasa penggambarannya. Hiruk-pikuk di pengungsian, para korban yang perlu pertolongan, dan sebab akibat terjadinya pertikaian, semua dihadirkan pengarang dengan porsi yang pas. Kei adalah novel dengan alur yang tidak mudah ditebak. Nasib tokoh-tokohnya begitu cepat berubah, membangkitkan rasa penasaran tentang akhir dari kisah Namira dan Sala.  
Di beberapa halaman terakhir dalam novel ini, pengarang sukses memainkan emosi pembaca melalui keadaan Sala yang kritis. Lalu, di antara keadaan kritis itu, momen manis yang menggetarkan pun terjadi, yaitu saat Sala (dengan sisa tenaganya) menulis surat untuk Namira. Akankah surat yang ditulis di pembungkus rokok itu sampai ke tujuan?
Novel ini sangat menarik untuk dituntaskan. Kei memperlihatkan bahwa perang saudara hanyalah ulah “Tuan Iblis” yang membuat perkara-perkara sepele bergeser menjadi isu-isu keagamaan. Kei juga memperlihatkan bahwa orang-orang Katolik, Protestan, dan Muslim, sesungguhnya hidup rukun di Kei, mereka saling tolong-menolong di tengah perang yang terjadi.
Intinya, melalui Kei, Erni menyampaikan bahwa perang selalu membawa kesedihan mendalam bagi orang-orang yang mengalaminya. Perang melahirkan duka kehilangan, duka kerinduan, kesemrawutan hidup, juga keputusasaan. 
“…. Kerusuhan telah membuat kita saling membenci, kehilangan kepercayaan, dan depresi. Satu hal yang kita harus pelihara hanyalah hati nurani dan rasa belas kasihan. Jangan pernah membiarkan perang ini merenggut rasa belas kasih kita, jangan pernah!” (hlm. 146).
Kei membuka mata kita, membangkitkan sensitivitas kita bahwa pertikaian tidak pernah membawa manfaat apa pun, justru kerugianlah yang akan diperoleh. Berpikir cerdas, jangan mudah tersulut isu-isu liar, dan segeralah mencari solusi perdamaian, adalah hal-hal positif yang bisa dipetik dari Kei.

Jumat, 06 Maret 2015

[RESENSI NOVEL BERSETIA]

Heterogenitas Rasa dan Tokoh-tokoh yang Memesona



   
Judul Buku    : Bersetia: Cinta yang Kembali Takkan Seperti Semula
Pengarang     : Benny Arnas
Penerbit        : Qanita
Cetakan        : Pertama, April 2014
Tebal             : 604 halaman   
ISBN            : 978-602-1637-25-8

Kesetiaan dalam sebuah pernikahan adalah dambaan semua pasangan. Melalui novel perdananya ini, Benny Arnas menghadirkan tokoh-tokoh yang berjuang menunjukkan kesetiaan. Mereka berjuang, sebab bersetia bukanlah perkara mudah.
Novel ini berkisah tentang perjalanan cinta Embun dan Brins yang penuh tantangan. Penjebakan, kecemburuan, pelarian tanpa jejak, hingga tuduhan-tuduhan aneh yang sulit disangkal, adalah tantangan-tantangan dalam rumah tangga keduanya. Selain kisah Embun dan Brins, Bersetia juga menghadirkan romantisme kenangan-kenangan Cece Po terhadap Gun-gun, suaminya yang telah meninggal, juga ada kisah tentang Om Sel yang ditinggalkan istri dan (mungkin) juga anaknya. Lalu, saat Cece Po dan Om Sel saling jatuh cinta, orang-orang dari masa lalu tiba-tiba hadir, membuat cinta keduanya harus kandas.
Dikisahkan dalam Bersetia bahwa dari lapak tempat Embun menjaga kain-kain batik milik Cece Po, induk semangnya, gadis 23 tahun itu terpikat pada Brins yang sering dilihatnya memotret di sekitar lapaknya yang berada di Pasar Jatinegara. Brins pun demikian. Ia jatuh hati pada perempuan sederhana yang tampil cantik tanpa riasan itu.
Setelah perkenalan dan beberapa kali pertemuan, keduanya mantap melangkah ke jenjang pernikahan. Kejutan rumah baru, high tea nyaris setiap hari, hingga jalan-jalan berdua mengelilingi Jakarta, adalah momen-momen romantis pascapernikahan.
Sayangnya, kehangatan rumah tangga keduanya tidak berlangsung lama. Kelakuan bejat Brins yang disaksikan langsung oleh Embun, membuat perempuan itu nekat meninggalkan suaminya. Embun yang tidak tahu hendak ke mana, terseret ke tempat yang tidak pernah ia kunjungi sebelumnya. Tempat yang menguak banyak misteri dari masa lalu. Tempat yang akhirnya mempertegas keadaan psikologis Embun.
Brins yang merasa bersalah terkait hilangnya Embun, terus mencari keberadaan istrinya itu. Namun, mengapa saat Brins telah menemukan Embun, lelaki itu malah ingin membunuhnya? 

Heterogenitas Rasa
Bersetia penuh dengan heterogenitas (keanekaragaman) rasa. Pengarang menyuguhi pembaca dengan teh, kopi, eksotisme Lubuklinggau, serta masalah psikologis tokoh.
Teh adalah suguhan terbanyak dalam Bersetia. Hal tersebut disebabkan oleh keberadaan Embun sebagai Perempuan Teh, perempuan yang setiap seduhan dan racikan tehnya selalu nikmat. Aneka jenis teh (buatan Embun) dipaparkan dalam Bersetia, membangkitkan hasrat minum teh bersama orang-orang terkasih. Selain teh buatan Embun, pembaca akan diajak mengenali tempat-tempat minum teh di tanah air maupun luar negeri, melalui sosok Gun-gun, penikmat teh yang akut.
Tidak hanya teh, Bersetia juga menghadirkan kopi. Brins dan Om Sel, dua lelaki penikmat kopi, dua lelaki yang sama-sama kehilangan keluarga, bertemu di Coffee Coffee. Pertemuan yang intens membuat keduanya menjalin pertalian sebagai anak dan ayah angkat. “Bagi Brins, Coffee Coffee bukan sekadar kafe yang nyaman untuk minum kopi, tetapi juga taman bermain bagi perasaannya—ketika bahagia maupun gundah, ketika luang maupun sibuk.” (hlm. 66).
Setelah “menikmati” teh dan kopi, pembaca akan diajak ke Lubuklinggau, salah satu latar tempat dalam Bersetia. Eksotisme Palembang, khususnya Lubuklinggau, dihadirkan Benny melalui kehidupan masyarakat di kota tersebut, geliat pembangunannya, cara bertutur (dialek), hingga tempat-tempat wisata beserta kulinernya.
Terakhir adalah unsur psikologis yang membuat novel ini penuh ketegangan dan kejutan. Benarkah Brins tidak setia? Atau benarkah Embun yang lugu itu seorang pendusta?

Tokoh-tokoh yang Memesona
Brins, Embun, Cece Po, dan Sarah, adalah tokoh-tokoh yang memesona dalam Bersetia. Mereka menarik perhatian karena sifat-sifatnya, interaksi antartokohnya, dan kepiawaian Benny menghadirkan ‘beban masa lalu’ di diri tokoh-tokohnya itu. 
Embun memesona dengan kemampuan menyeduh tehnya. Dia digambarkan sebagai perempuan yang mudah cemburu. Embun juga memiliki kecintaan terhadap stasiun kereta. Selain itu, Benny menyertakan sebuah “gangguan” di diri Embun, membuat sosoknya semakin ‘misterius’ bagi pembaca.
Suami Embun, Brins, adalah tipe tokoh fiksi yang (akan) dikagumi pembaca. Dia tampan, mapan, dan penuh kejutan pada istrinya. Sosoknya yang romantis dengan segala latar belakang keluarganya menghadirkan kehangatan tersendiri dalam novel ini.     
Cece Po memesona karena nasihat-nasihatnya yang melegakan. Dia adalah seorang yang kesepian, namun di sisi lain, dia memiliki ketabahan. Kenangan-kenangannya bersama mendiang suaminya adalah momen-momen menghanyutkan dalam novel. “Kebahagiaan itu akan timpang bila belum menemukan kesedihan. Dan pertemuan itu akan memberi begitu banyak pelajaran bagi manusia apabila ia sudah menemukan pasangannya; Perpisahan.” (hlm. 596).
Terakhir, Sarah. Dia adalah sosok yang membangkitkan simpati di awal kisah (karena keceriaan dan keramahannya), lalu empati di akhir kisah (karena jati dirinya yang akhirnya terkuak). Percakapan gadis itu bersama ibunya di akhir novel begitu menyentuh. Sarat harapan dan kepercayaan.  

Selain heterogenitas rasa dan tokoh-tokoh yang memesona, Bersetia memiliki latar yang deskriptif. Penggunaan bahasa yang estetis juga merupakan poin plus dalam novel ini. 
Hal yang kurang digali pengarang adalah bagian pengungkapan sebab tokoh antagonis melakukan aksinya.  Bagian tersebut terkesan buru-buru, sehingga tokoh-tokoh yang terlibat dengan entengnya mengungkap kejahatannya sendiri.
Namun, lepas dari itu, Bersetia merupakan novel dengan eksplorasi tema percintaan yang sangat memikat. Teh, kopi, eksotisme Lubuklinggau, masalah psikologis, juga tokoh-tokoh yang memesona, berpadu dengan konflik yang dibangun pengarang. Konflik yang akan menunjukkan esensi bersetia.   

Sabtu, 24 Januari 2015

[RESENSI NOVEL THE SILKWORM (ULAT SUTRA)]

Misteri Kematian Novelis yang Cara Kematiannya Tertulis di Novel
Resensator: Susi S. Idris


Judul Buku       : The Silkworm (Ulat Sutra)
Pengarang        : Robert Galbraith
Alih Bahasa      : Siska Yuanita dan M. Aan Mansyur
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan           : Pertama, 2014
Tebal               : 536 halaman
ISBN               : 978-602-03-0981-1

Setelah sukses menguak misteri kematian Lula Landry di The Cuckoo’s Calling (Dekut Burung Kukuk), detektif partikelir Cormoran Strike kini beraksi kembali di The Silkworm (Ulat Sutra) untuk memecahkan teka-teki kematian seorang novelis bernama Owen Quine.
Kesuksesan Strike membuktikan bahwa kematian Lula Landry bukan aksi bunuh diri, telah memicu publisitas besar-besaran terhadap dirinya. Strike yang awalnya hanya memiliki satu klien, berubah menjadi detektif tersohor di metropolis. Pensiunan tentara yang kaki kanannya diamputasi akibat kecelakaan saat bertugas di militer itu, kini memiliki lebih banyak klien. Orang-orang menganggapnya mumpuni.
Anggapan itu pula yang memicu Leonora Quine datang kepada Strike. Istri novelis Owen Quine itu tidak mengira bahwa suaminya akan menghilang lebih lama dari biasanya dan tidak bisa dihubungi. Leonora pun berharap Strike bisa menemukan Owen, lalu membawanya pulang untuk menemui Orlando, anak tunggal mereka yang memiliki keterbatasan dan sangat merindukan ayahnya.
Awalnya, tugas Strike cukup mudah. Dia hanya perlu menghubungi seseorang di sebuah penerbitan, lalu mendesaknya untuk memberi tahu lokasi retret penulis (yang diyakini Leonora sebagai tempat pelarian Owen), setelah itu Strike cukup membawa Owen pulang. Tetapi, Bigley Hall, tempat retret penulis itu rupanya tidak pernah menerima tamu bernama Owen Quine.
Akhirnya, Strike harus menggali informasi lebih banyak kepada kliennya. Informasi terbaru dari Leonora membawa Strike bertemu dengan lebih banyak orang yang mengenal Owen. Hingga saat Strike tahu tentang rumah di Talgarth Road, detektif itu pergi ke sana. Di rumah itulah, Strike berhasil menemukan Owen, tetapi dalam kondisi tak lagi bernyawa dan sangat mengenaskan.
Novel misteri seri kedua karya Robert Galbraith ini menghadirkan novel di dalam novel. Ya, ada Bombyx Mori dalam The Silkworm. Bombyx mori adalah nama latin untuk ulat sutra. Bombyx Mori merupakan novel terakhir karangan Owen, belum terbit, namun beberapa orang (dan akhirnya tersebar luas), telah membaca naskah novel yang menghujat orang banyak tersebut. Yang membuat gempar, Owen tewas dengan cara yang nyaris sama dengan kematian Bombyx, tokoh utama di novel terakhirnya. Keduanya dibunuh secara sadis dengan menghadirkan “perjamuan makan”.
Seperti halnya novel misteri lain, selalu ada tokoh-tokoh yang sengaja dihadirkan untuk dicurigai pembaca sebagai tersangka. Dalam The Silkworm ada banyak nama yang dihadirkan Robert Galbraith sebagai ‘calon kuat pembunuh Owen Quine’.
Pertama, Leonora Quine, istri Owen. Kedua, Christian Fisher, kepala penerbit Crossfire Publishing. Ketiga, Elizabeth Tassel, agen Owen. Keempat, Daniel Chard, kepala (CEO) perusahaan penerbit Roper Chard, yang menerbitkan buku-buku Owen selama ini. Kelima, Kathryn Kent, pacar (selingkuhan) Owen. Keenam, Michael Fancourt, penulis. Ketujuh, Jerry Waldegrave, editor Owen.
Ketujuh ‘calon kuat pembunuh Owen’ yang dihadirkan Robert Galbraith tersebut masing-masing diberi motif yang sangat kuat untuk menjadi tersangka. Apalagi, ada nama-nama fiktif, yaitu Harpy, Vainglorious, Succuba, Cutter, Tick, Phallus Impudicus, dan Epicoene, dalam novel beraliran surealis Bombyx Mory. Dalam novel karangan Owen tersebut, Bombyx (gambaran dirinya) dibunuh bersama-sama oleh ketujuh tokoh fiktif tersebut. Mungkinkah pembunuh Owen melibatkan banyak orang? Lalu, mengapa Owen menulis novel yang menggambarkan cara kematiannya sendiri? Apakah Owen sudah tahu akan dibunuh oleh tokoh yang dia sebut dalam novel? Yang pasti, pelaku adalah pembunuh yang sangat keji, pembunuh dengan ide dan eksekusi yang sangat rapi. Pembunuh yang membuat Strike harus bekerja keras.
Dibantu asistennya, Robin Ellacott, Strike menyusun janji temu dengan ketujuh ‘calon kuat pembunuh Owen’, melontarkan pertanyaan demi pertanyaan, kemudian menyusunnya menjadi sebab akibat untuk penarikan kesimpulan. Strike dan Robin juga harus menemui banyak orang di luar ke tujuh ‘calon kuat pembunuh Owen’ tersebut: para saksi mata, anak Owen Quine, dan beberapa kenalan yang—sadar maupun tidak—turut membantu penyelidikan Strike. Selain itu, mereka juga berburu novel-novel Owen sebelum Bombyx Mori, termasuk mencari salinan novel terakhir itu, kemudian memaksakan diri masuk ke dunia ganjil rekaan Owen yang mampu membuat siapa pun mual dan muak saat membacanya. Yang paling sulit adalah menemukan barang bukti di tengah barikade Kepolisian Metro yang sejak kasus Lula Landry mulai berhati-hati terhadap keberadaan Strike.
Novel setebal 536 halaman dengan ukuran yang lebih panjang dari ukuran novel lazimnya ini memiliki alur yang tidak hanya membahas tentang kasus Owen. Bagaimana pun, Strike memiliki klien lain yang tetap harus ditangani. Strike memiliki kehidupan pribadi; menghadiri acara ulang tahunnya sendiri yang dibuat adik tirinya, menghadiri undangan makan malam seorang teman yang ditolongnya saat Viking meledak di Afghanistan (merenggut betis kanan Strike), juga memikirkan sang mantan kekasih yang akan segera menikah dengan anak bangsawan Skotlandia.
Selain itu, ada kisah percintaan Robin dengan Matthew, lelaki yang tidak menyukai Strike, lelaki yang menyesali keputusan Robin lebih memilih bekerja sebagai asisten detektif partikelir daripada menerima pekerjaan yang bergaji lebih tinggi.
Cerita yang cukup bercabang-cabang tersebut, di satu sisi menjadikan The Silkworm tidak membosankan, namun di sisi lain terkadang menimbulkan keinginan untuk segera “melompat” ke kasus Owen, meskipun pada akhirnya, pembaca (harus) memaklumi bahwa demikianlah novel berseri. Akan ada banyak konflik sampingan yang menyertai konflik utama. Akan ada banyak tokoh yang dihadirkan (sebagai pendukung kasus yang tengah ditangani Strike, maupun untuk keperluan seri berikutnya). Misalnya seperti yang terjadi pada tokoh Dave Polworth di The Silkworm ini. Di pertengahan cerita (hlm. 327-329), Strike mengingat Dave (teman karibnya sejak TK) yang pernah menantang hiu di lautan luas. Penggambaran yang terasa kurang penting itu ternyata merupakan pembuka bagi Robert untuk menghadirkan kembali tokoh Dave di bagian akhir (hlm. 498) sebagai orang yang membantu Strike menemukan “sesuatu” yang memuluskan jalan sang detektif mengungkap pembunuh Owen. Jadi, sebelum mulai membaca, marilah meyakini bahwa tidak ada tokoh mubazir dalam The Silkworm.
Robert Galbraith (nama alias J.K. Rowling) dalam The Silkworm begitu piawai menghadirkan konflik antartokoh maupun gerak-gerik tokoh sebagai pengecoh, yang memungkinkan tokoh tersebut dicurigai sebagai pelaku oleh pembaca. Jalan cerita yang rumit, tidak membuat satu pun keganjilan dalam logika cerita, karena Robert begitu detail menyusun urutan kronologis maupun hubungan sebab akibat.
Lepas dari kepiawaian Robert menyusun jalan cerita, kepandaian Strike dalam menentukan pembunuh Owen kurang terasa energinya. Artinya, Strike “tiba-tiba” langsung mengetahui pembunuh Owen (hlm. 441; SMS Strike kepada Robin), padahal di halaman sebelumnya, Strike sibuk memikirkan mantan kekasihnya. “Tiba-tiba” artinya tidak ada proses mendebat pikiran sendiri yang diperlihatkan kepada pembaca. Dan Robin pun tidak memiliki kemampuan untuk mendebat bosnya itu, sehingga saat Strike membuka kedok pembunuh, dia hanya terkesan sebagai Robert yang menyampaikan kesimpulan akhir kepada pembaca. Tidak ada kesan bahwa Strike memang cerdas, bahwa dialah yang merumuskan semua kesimpulan itu (bukan Robert).
Masih mengenai tokoh Strike. Pilihan Robert membuat Strike hidup dengan kaki kanan yang diamputasi dari lutut ke bawah, merupakan suatu ciri fisik yang menghadirkan keunikan tersendiri, namun hal itu terkadang menimbulkan kesan lemah pada Strike. Di The Silkworm, Strike digambarkan sangat kesulitan melawan penguntitnya (yang amatir). Dan berkali-kali Strike tidak berdaya dengan kondisi lututnya yang selalu bengkak. Bagaimana nasib Strike jika berhadapan dengan pembunuh-pembunuh yang lebih brutal, yang tidak mengharapkan keberadaannya? Mungkinkah Robert tengah mempersiapkan “kejutan” terkait kaki kanan Strike di serial-serial berikutnya?
Terjemahan The Silkworm ke bahasa Indonesia ini mudah dipahami. Kalimat-kalimatnya padu. Beberapa diksi bahkan terasa “Indonesia”-nya. Untuk urusan teknis, terdapat beberapa kesalahan tipografi, tetapi tidak sampai mengganggu pembacaan.
Gambar lelaki di sampul depan (yang bisa dengan mudah ditandai sebagai Strike), mencitrakan bahwa kaki Strike yang diamputasi adalah sebelah kiri, padahal sebenarnya sebelah kanan. Atau mungkinkah gambar itu hanya menunjukkan kaki kiri Strike yang maju ke depan (seperti tengah melangkah) dan kaki kanan memakai prostetik?
Kepada calon pembaca: bersiaplah untuk masuk ke percakapan-percakapan Strike dan Robin yang membuat penasaran di 150 halaman terakhir. Di sanalah puncak investigasi. Dan Strike akan melibatkan Robin dalam investigasi tersebut. Apa sebenarnya yang akan dilakukan Robin? Apa sebenarnya yang dirancang Strike untuk menjebak pelaku? Benarkah pelaku sedetail itu mempersiapkan aksinya? Robert Galbraith menyembunyikannya dengan sangat baik, bahkan saat kita mengira sang pelaku telah datang, sesungguhnya itu hanyalah jebakan.
Penyelesaian novel ini juga sangat berkesan. Chemistry Strike dan Robin di lembar-lembar terakhir The Silkworm menimbulkan tanda tanya: apakah kelak hubungan keduanya tidak sekadar rekan kerja? Hanya Robert yang bisa menjawab. Mengenai pekerjaan, sebagai informasi, Robin akan mengikuti kursus pengintaian. Dengan begitu, perempuan yang sudah memendam ambisi untuk bekerja dalam bidang penyelidikan kriminal sejak remaja itu “terancam” akan menjadi asisten detektif paling keren sejagat fiksi!
Jadi, mari menanti kolaborasi investigasi antara Strike dan Robin di serial berikutnya, berikutnya, dan berikutnya.